Perburuan Gelap yang Mengancam Satwa Liar

Indonesia negara yang damai

Masyarakat dunia mengenal Indonesia sebagai negara yang relatif damai. Menurut data dari Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan, menempati posisi ke-10 dalam daftar negara dengan tingkat pembunuhan terendah di dunia. Kebijakan pelarangan senjata api kemungkinan berkontribusi terhadap hal ini, meskipun masih terdapat berbagai cara lain yang dapat mengancam nyawa. Selain itu, budaya masyarakat yang cenderung menghindari konflik turut memperkuat situasi yang aman.

Meski tingkat kekerasan antar manusia tergolong rendah, kondisi ini tidak serta-merta berlaku bagi satwa liar. Perlindungan yang masyarakat nikmati tidak menjamin hewan-hewan non-manusia memperoleh keselamatan yang sama di lingkungan tersebut.

Tingkat pembunuhan terhadap satwa liar tampaknya berada pada level tertinggi dalam sejarah. Studi terkini dalam jurnal ilmiah Conservation Biology mengungkapkan bahwa pembunuhan satwa liar di Kalimantan kini melampaui dampak penebangan komersial terhadap konservasi.

Pernyataan semacam ini kemungkinan besar akan mendapat tanggapan skeptis. Banyak pihak, termasuk organisasi konservasi, kalangan ilmuwan dan otoritas pemerintah, cenderung menganggap remeh anggapan bahwa perburuan memiliki dampak yang sedemikian besar.

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita kembali pada hasil penelitian. Jedediah Brodie dari University of British Columbia memimpin studi dengan memanfaatkan kamera jebak di berbagai tingkat gangguan habitat untuk menelusuri dampak terhadap satwa liar. Temuan menunjukkan aktivitas perburuan dan penebangan baru menurunkan jumlah spesies, namun beberapa hewan liar kembali ke kawasan dengan penebangan selektif. Temuan tersebut memperkuat analisis yang termuat dalam buku Life after Logging.

Salah satu temuan utama menunjukkan bahwa dampak dari aktivitas penebangan cenderung bersifat sementara. Sebaliknya, tekanan akibat perburuan berlangsung secara terus-menerus. Secara keseluruhan, perburuan memengaruhi 87% spesies dalam studi tersebut secara negatif.

Hasil ini sejalan dengan berbagai studi tentang perburuan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di wilayah Kalimantan.

Survei Wawancara

Survei wawancara di seluruh Kalimantan pada 2009 mengungkapkan masyarakat membunuh ribuan orangutan setiap tahun. Lebih dari separuh kasus berujung pada pengolahan daging orangutan menjadi hidangan seperti steak atau semur. Masyarakat melakukan pembunuhan ini baik di kawasan hutan maupun wilayah yang telah mengalami deforestasi. Komunitas pemburu nomaden bahkan telah memusnahkan orangutan dari daerah mereka. Oleh karena itu, perburuan tampak menjadi ancaman lebih serius bagi spesies ini daripada penebangan.

Peneliti melakukan studi beberapa tahun lalu untuk memperoleh pemahaman lebih akurat mengenai jumlah hewan terdampak perburuan. Mereka meminta 18 rumah tangga di desa Dayak, Kalimantan Timur, menandai hewan tangkapan pada kalender bulanan selama satu tahun. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat menangkap 3.289 ekor dengan total berat 21.125 kilogram. Babi berjanggut menyumbang 81% dari total berat, lalu rusa 8% dan ikan 6%. Rata-rata, masyarakat mengonsumsi sekitar setengah kilogram satwa liar atau ikan per orang setiap hari.

Angka total tangkapan kini tidak lagi menjadi indikator utama. Hal yang lebih krusial adalah menilai apakah masyarakat dapat mempertahankan tingkat eksploitasi tersebut dalam jangka panjang. Dengan kata lain, pertanyaannya adalah apakah manusia dapat terus melakukan pemanenan pada level ini tanpa mengancam kelangsungan hidup populasi spesies yang bersangkutan.

Sayangnya, topik ini jarang menjadi fokus penelitian. Meski begitu, wawancara dengan masyarakat lokal dapat memberikan gambaran mengenai situasinya—dan hasilnya menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.

Sebagian besar spesies yang menunjukkan tren penurunan populasi. Populasi babi, rusa, monyet, orangutan, ikan, dan ular terus berkurang. Penurunan ini membuat masyarakat khawatir, karena mereka masih memperoleh daging satwa liar secara gratis. Jika sumber tersebut habis, masyarakat harus membeli daging di pasar dengan biaya tambahan. Meski kekhawatiran ini nyata, masyarakat tidak berupaya mengubah pola perburuan yang sudah berlangsung.

Kurang Menarik

Sungguh mengejutkan bahwa topik ini jarang menarik perhatian para pemerhati konservasi, kecuali jika berkaitan dengan spesies ikonik seperti harimau atau badak. Padahal, jika perburuan benar-benar mengancam konservasi, masyarakat harus mempertanyakan mengapa belum mengambil langkah nyata untuk menanganinya.

Salah satu alasan yang sering dikemukakan adalah adanya anggapan di kalangan aktivis konservasi bahwa masyarakat tradisional di Kalimantan maupun wilayah hutan tropis lainnya memiliki pemahaman tentang praktik perburuan yang berkelanjutan. Namun kenyataannya, pemahaman tersebut tidak benar-benar dimiliki.

Untuk memastikan populasi ikan, burung dan mamalia tetap mencukupi sebagai sumber pangan jangka panjang bagi manusia, diperlukan perubahan dalam praktik berburu dan menangkap ikan yang selama ini dilakukan.

Penegakan hukum terkait pembunuhan dan perburuan terhadap spesies yang terancam punah maupun bernilai ekonomi sangat diperlukan. Penting pula untuk menetapkan kawasan bebas perburuan di lokasi-lokasi yang memungkinkan populasi satwa liar tumbuh dengan baik. Pengalaman dari penerapan zona larangan penangkapan ikan menunjukkan efektivitas tinggi, asalkan pengawasan dilakukan secara ketat.

Yang lebih krusial adalah, selama satwa liar dipandang sebagai aset bersama tanpa kepemilikan yang jelas, maka risiko eksploitasi berlebihan akan terus berlangsung. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada pihak yang merasa bertanggung jawab untuk mengelola atau melindungi sumber daya tersebut.

Fenomena hutan kosong—di mana pepohonan tetap berdiri namun satwa liar menghilang—menjadi ancaman nyata di hampir seluruh kawasan hutan. Pertanyaannya kini adalah: lembaga konservasi dan otoritas pemerintah mana yang siap mengambil langkah tegas untuk menghadapinya?

Bagi yang dikenal sebagai pribadi tenang, cinta damai dan cenderung menghindari konflik, menunjukkan kepedulian serta kasih terhadap satwa liar seharusnya bukan hal yang sulit. Seperti yang pernah disampaikan oleh Mahatma Gandhi, ukuran kemuliaan suatu bangsa dan tingkat kemajuan moralnya tercermin dari bagaimana memperlakukan hewan-hewan di sekitarnya.

Visited 8 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *