Jokowi Dinilai Agresif Menampilkan Kekuatan Strategis

keprihatinan lemahnya mentalitas bangsa

Menjelang pelantikan Presiden Joko Widodo, salah satu penasihat utama beliau mengungkapkan keprihatinan terhadap lemahnya mentalitas bangsa. Ia mengkritik sikap pertahanan yang terlalu pasif. Ia menyindir peserta seminar bahwa pihak lain bisa merebut Kepulauan Natuna. Indonesia terpaksa merebut kembali wilayah tersebut di Laut China Selatan.

Situasinya berbeda dalam konteks pertahanan udara yang semakin kokoh. Dalam beberapa pekan terakhir, TNI AU tiga kali mengerahkan jet tempur Sukhoi buatan Rusia. Jet tempur itu mencegat pesawat sipil yang melintas tanpa izin di wilayah udara.

TNI AU pernah mengerahkan jet tempur sebagai tanggapan dugaan serangan. Tiga insiden terbaru menjadi perkembangan yang belum pernah terjadi. Peristiwa ini memberi pengalaman berharga bagi pilot Sukhoi di Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar. Peristiwa tersebut juga mencerminkan penguatan strategi tegas dari pemerintahan Jokowi.

Pihak militer menunjukkan kesungguhan yang meningkat dalam menjaga keutuhan wilayah nasional. Pada saat yang sama, para diplomat menerapkan kebijakan luar negeri terukur. Kebijakan itu berlandaskan pertimbangan kepentingan nasional yang lebih ketat.

Presiden Jokowi mengusung doktrin poros maritim dunia sebagai pilar utama kebijakan luar negeri. Ia menafsirkannya sebagai strategi geopolitik pembangunan maritim komprehensif. Dimensi pertahanan mencakup penguatan kapasitas angkatan laut dan peningkatan kerja sama diplomasi pertahanan di Samudra Hindia. Pemerintah juga menegaskan komitmen melindungi kedaulatan laut serta meningkatkan kesejahteraan wilayah pulau-pulau terluar.

Presiden Jokowi memproyeksikan peningkatan anggaran pertahanan dari 0,8% menjadi 1,5% dari PDB dalam kurun waktu lima tahun, dengan fokus utama pada pengembangan kekuatan angkatan laut. Namun, realisasi target ini sangat bergantung pada laju pertumbuhan ekonomi global serta keberhasilan pelaksanaan reformasi ekonomi makro di dalam negeri. Apabila rencana tersebut berhasil, pemerintah memperkirakan total anggaran pertahanan meningkat dua kali lipat, dari Rp83 triliun menjadi Rp159 triliun.

Kesinambungan Kebijakan

Terdapat kesinambungan kebijakan yang cukup kuat dengan era pemerintahan sebelumnya. Pada masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pemerintah meningkatkan anggaran pertahanan secara pesat. Pemerintah juga memperbanyak pengadaan dan produksi dalam negeri untuk platform militer udara dan laut modern. Sistem yang pemerintah peroleh mencakup kapal selam diesel-elektrik kelas Changbogo, korvet Sigma, kapal rudal KCR-60 dan KCR-40, kapal patroli siluman trimaran, serta helikopter AS565 Panther dengan kemampuan anti-submarine warfare (ASW).

Presiden Jokowi menunjukkan komitmen terhadap penguatan kelembagaan di sektor kelautan dengan memberikan prioritas tinggi pada aspek ini. Presiden menunjuk Laksamana (Purn.) Tedjo Edhy Purdijatno sebagai Menko Polhukam dan memutuskan membentuk Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman yang baru, di bawah pimpinan ilmuwan dan ahli kelautan Indroyono Soesilo.

TNI meningkatkan kesiapan merespons ancaman wilayah dengan pendekatan militer tegas, sementara para diplomat menyesuaikan arah kebijakan luar negeri agar selaras dengan kepentingan nasional terbaru. Kepentingan ini berpijak pada strategi pertumbuhan ekonomi berbasis kelautan serta penguatan pertahanan demi menjaga kedaulatan politik dan wilayah nasional.

Di era pemerintahan baru, para penasihat Presiden Jokowi meninggalkan slogan era SBY ‘seribu kawan, nol musuh’ dan menandai pergeseran arah diplomasi. Mereka mengarahkan pendekatan luar negeri agar lebih berorientasi pada kepentingan rakyat dan pertumbuhan ekonomi. Langkah ini sekaligus menolak pendekatan sebelumnya yang dianggap terlalu kompromistis dan kurang memiliki bobot strategis.

Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri yang baru, kini diarahkan untuk memprioritaskan hubungan bilateral yang dinilai memberikan manfaat langsung dibandingkan keterlibatan dalam proses multilateral. Arahan ini berasal dari Rizal Sukma, penasihat berpengaruh Presiden Jokowi, yang sebelumnya telah menekankan perlunya kebijakan luar negeri yang melampaui kerangka ASEAN—sebuah sinyal menuju pendekatan yang lebih pragmatis dalam menilai relevansi ASEAN bagi kepentingan diplomasi.

Secara ringkas, pendekatan baru ini tampaknya akan menantang norma konsensus ASEAN dan tidak segan mengambil sikap yang dapat memicu ketegangan dengan negara-negara tetangga. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menegaskan bahwa menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan langkah utama dalam menegakkan kedaulatan politik, dan hal tersebut akan dilakukan dengan ketegasan dan kejelasan.

Dorongan untuk meninggalkan mentalitas negara yang lemah kini mulai menunjukkan dampaknya dalam bentuk konsekuensi nyata di bidang militer dan diplomasi.

Visited 8 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *