Memanasnya sengketa di Laut China Selatan telah memicu kekhawatiran akan potensi konflik yang tidak sengaja akibat eskalasi militer. Seiring modernisasi cepat angkatan laut China, negara-negara pesisir Laut China Selatan memperkuat kemampuan maritim demi menjaga daya saing. Meski tidak termasuk dalam kelompok negara pengklaim wilayah, negara ini tetap mencemaskan meningkatnya ketidakstabilan regional. Sebagai respons, pemerintah berupaya memperbarui armada laut yang telah menua melalui pembangunan dan modernisasi baru.
Indonesia menempati posisi terbesar di Asia Tenggara berdasarkan PDB, jumlah penduduk, dan luas wilayah. Namun, meskipun memiliki indikator yang menguntungkan tersebut, kekuatan militer nasional belum menjadi yang paling unggul di kawasan. Dalam konteks angkatan laut, situasinya kurang mengesankan; negara tetangga kecil seperti Singapura dan Malaysia lebih maju maritimnya. Untuk mengatasi kondisi ini dan tantangan militer, pemerintah meluncurkan program modernisasi militer pada 2010, menargetkan MEF 2024. Salah satu sasaran utama TNI adalah membangun angkatan laut yang modern, terdiri dari 247 kapal permukaan dan 12 kapal selam.
Secara nominal, kekuatan tempur Angkatan Laut tampak cukup besar. Armada mencakup enam fregat ringan Ahmad Yani/Van Speijk buatan Belanda, sepuluh korvet dari tiga tipe, dan 16 Parchim eks‑Jerman Timur. Meski jumlahnya besar, semua fregat Van Speijk berusia 47–48 tahun dan sangat butuh penggantian. Saat ini, pemerintah baru memesan dua fregat ringan Sigma yang berkapabilitas memadai. Pemerintah kemungkinan mempensiunkan fregat Van Speijk tersisa tanpa pengganti, kecuali membeli atau membangun kapal baru. TNI AL mengoperasikan empat korvet Sigma baru buatan Belanda yang mumpuni dan tiga korvet patroli ringan buatan Inggris yang masih baru; sementara tiga korvet patroli tua berusia hampir 40 tahun perlu segera pemerintah ganti. Selain itu, 16 korvet ringan Parchim eks‑Jerman Timur berusia 30–34 tahun terlalu usang untuk operasi selain patroli dan mendesak pemerintah ganti.
Kapasitas Tempur
Kapasitas tempur permukaan TNI AL lainnya pemerintah topang oleh sejumlah kapal patroli kecil dengan persenjataan ringan serta beberapa kapal rudal. Dalam beberapa tahun ke depan, TNI AL merencanakan pembangunan 24 kapal rudal baru sebagai bagian dari upaya modernisasi.
Secara teori, kekuatan Angkatan Laut terlihat besar, tangguh dan kompeten. Bagi negara kepulauan sebesar Indonesia, lebih dari 30 kapal perang belum menjamin pertahanan merata. Dari 32 kapal perang, hanya tujuh berusia di bawah 34 tahun. Pembaruan armada membutuhkan anggaran sangat besar, terlebih bila pemerintah juga ingin melakukan ekspansi. Dengan dana terbatas dan biaya kapal baru mahal, pemerintah sulit mempertahankan jumlah armada saat mengganti serentak. Karena itu, pemerintah kemungkinan memprioritaskan penggantian kapal paling tua terlebih dahulu. Sementara itu, TNI AL kemungkinan tetap mengoperasikan kapal yang relatif muda meski berusia di atas 30 tahun. Keragaman jenis kapal memicu variasi besar pada sistem senjata, rudal, dan perangkat elektronik. Pengelolaan inventaris dapat membaik saat kapal lama pensiun dan beberapa kelas meningkat. Namun kemajuan itu bergantung pada komitmen TNI AL terhadap standardisasi dan interoperabilitas. Pengoperasian kapal tua berkelanjutan menghambat interoperabilitas, terutama bagi awak, karena kesenjangan teknologi puluhan tahun.
Tidak seperti kapal permukaan yang berperan beragam, TNI AL menggunakan kapal selam khusus untuk operasi ofensif atau misi penolakan laut, yaitu mencegah musuh memanfaatkan wilayah laut. Karena beroperasi di bawah permukaan dan sulit terdeteksi, kapal selam sangat efektif menjalankan peran tersebut. TNI AL berpengalaman mengoperasikan kapal selam, termasuk saat memantau intervensi di Timor Leste pada 1999.
Buatan Jerman
Sejak 1981, TNI AL mengoperasikan dua kapal selam kelas Cakra/Tipe 209‑1300 buatan Jerman. Dalam beberapa tahun terakhir, TNI AL meningkatkan keduanya untuk memperpanjang masa pakai, namun keduanya tetap perlu segera diganti. Jika TNI AL tetap mengoperasikannya hingga 2020, usia kapal mendekati 39 tahun dan berpotensi memicu risiko keselamatan. Untuk mengatasi kondisi ini, pemerintah membeli tiga kapal selam kelas Chango‑bo, turunan Tipe 209 Jerman; Korea Selatan membangunnya. Pemerintah memperkirakan kapal baru ini akan menggantikan, bukan menambah, dua kapal selam kelas Cakra. Tanpa pemesanan tambahan, pemerintah kemungkinan hanya mengoperasikan tiga kapal selam pada awal 2020‑an, dengan asumsi TNI AL masih mengoperasikan kapal lama sementara.
Pemerintah tengah mengupayakan modernisasi terhadap armada kapal perangnya yang saat ini tergolong tua dan beragam. Secara umum, kekuatan maritim tersebut dinilai belum cukup untuk menjangkau seluruh wilayah kepulauan, terlebih daerah terpencil seperti Kepulauan Natuna di Laut China Selatan yang menjadi objek sengketa. Walaupun terdapat kemajuan, tantangan besar masih dihadapi, khususnya terkait minimnya pembangunan kapal baru sebagai pengganti kapal-kapal yang telah usang. Secara keseluruhan, meskipun merupakan negara terbesar, paling kaya dan berpenduduk terbanyak di Asia Tenggara, kapabilitas angkatan lautnya masih perlu ditingkatkan secara signifikan agar mampu berperan secara proporsional di kawasan Indo-Pasifik yang kian bergejolak.