Saat Indonesia menghadapi lonjakan kebutuhan pangan, energi dan mitigasi iklim, perdebatan muncul tentang bagaimana menjaga pertumbuhan tanpa mengubah hutan alami.
Penulis artikel kehutanan Korea terbaru menekankan pemanfaatan lahan kurang pemerintah manfaatkan untuk mata pencaharian, pemulihan ekologi, dan penyimpanan karbon.
Tantangan Utama: Trilema Nasional
Pembuat kebijakan menghadapi dilema lama yang semakin rumit. Pertumbuhan penduduk dan ekspansi ekonomi meningkatkan kebutuhan pangan dan energi. Sementara negara berkomitmen pada target iklim dan perlindungan hutan alami.
Strategi konvensional mengandalkan pembukaan lahan untuk menambah produksi pangan dan energi, sehingga memberi beban pada hutan. Pendekatan ini berpotensi merusak keanekaragaman hayati, mengurangi penyimpanan karbon, dan melemahkan ketahanan jangka panjang, serta menciptakan keuntungan pembangunan yang rapuh.
Jalur Berbasis Sains
Artikel Baral et al. dengan kontribusi Robert Nasi (CIFOR‑ICRAF) menyarankan pemanfaatan lahan terdegradasi. Fokus pada agroforestri dan sistem bioenergi berwawasan restorasi dan iklim. Ini menjadi alternatif terhadap konversi hutan.
Kondisi bentang alam berproduktivitas rendah serta fungsi ekologis menurun semakin dipandang sebagai kandidat transformasi, bukan kerusakan lanjutan.
Para pengelola lahan menerapkan pendekatan terpadu di lahan tersebut. Tanam pangan untuk gizi dan kebutuhan pasar lokal. Tanam pohon bioenergi untuk energi terbarukan, serta integrasikan biomassa dan ternak dalam mosaik agroforestri.
Dengan bekerja bersama, komponen ini mendorong produktivitas lahan dan memperkuat mata pencaharian pedesaan. Mereka juga meningkatkan penyerapan karbon bersih tanpa menambah konversi hutan.
Mengapa Lahan Terdegradasi Itu Penting
Wilayah luas di Indonesia terdegradasi dan kurang dimanfaatkan. Contohnya jutaan hektare bekas sawah, hutan berproduktivitas rendah, dan tanah miskin. Dalam kondisi sekarang, wilayah ini kecil kemungkinan berkontribusi signifikan pada ketahanan pangan, karbon, atau keanekaragaman hayati.
Pengalihan fokus pembangunan ke lahan-lahan ini membantu memutus keterkaitan antara pertumbuhan ekonomi dan deforestasi, serta menegakkan basis bioekonomi yang berpihak pada hutan dengan mengedepankan konservasi hutan alami dan restorasi.
Berbagai Manfaat, Tantangan Nyata
Sistem bioekonomi yang menitikberatkan pada restorasi dapat menghadirkan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan: memperluas sumber pendapatan di desa, membangun potensi energi terbarukan, dan meningkatkan penyerapan karbon.
Dengan demikian, upaya ini tidak hanya memenuhi komitmen pemerintah pada Perjanjian Paris, tetapi juga mendukung pelaksanaan rencana pembangunan nasional.
Untuk membawa pendekatan ini ke skala besar, kita perlu memastikan kepemilikan dan tata kelola lahan jelas, membangun infrastruktur pengolahan dan pasar, merancang model yang melibatkan petani kecil, serta menyiapkan pembiayaan berjangka panjang yang memberi penghargaan pada keberhasilan restorasi.
Ini bukan tantangan remeh, namun juga bukan yang tak teratasi—terutama bila ditempatkan dalam kerangka perencanaan tingkat lanskap yang koheren dan strategi rantai nilai terintegrasi.
Relevansi Kebijakan dan Langkah Selanjutnya
Untuk komunitas kebijakan dan praktik, temuan utamanya gamblang: konservasi hutan dan pengarusutamaan tujuan ekonomi bukan kategori yang mutually exclusive, melainkan interdependen.
Saat lahan terdegradasi diprioritaskan untuk penggunaan multiguna, pemerintah punya peluang membangun bioekonomi yang bukan hanya produktif dan adil, tetapi juga benar‑benar berpihak pada hutan.
Pendekatan ini memfasilitasi kerja sama intersektoral antara para pemangku kepentingan di sektor kehutanan, pertanian, energi dan pembangunan pedesaan. Selain itu, pendekatan ini menyoroti kebutuhan riset yang terarah serta implementasi percontohan guna membuktikan performa sistem agroforestri dan bioenergi ramah‑iklim di lapangan.
Seiring eskalasi perhatian global pada nature‑based solutions, pembelajaran dari pengelolaan lahan terdegradasi berpotensi menjadi benchmark bagi negara‑negara tropis lain dalam merealisasikan pembangunan berkelanjutan tanpa trade‑off terhadap aset kehutanan.