Pekan ini pemerintah menerima tiga jet tempur Rafale dari Prancis. Pengiriman itu bagian dari pembelian bernilai miliaran dolar. Tujuannya memodernisasi armada udara yang menua.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Rico Ricardo Sirait mengatakan ketiga pesawat tiba pada 23 Januari. Angkatan Udara kini menempatkan pesawat tersebut di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.
Dia mengatakan pihak terkait telah menyerahkan pesawat, sehingga Angkatan Udara dapat langsung menggunakannya. Ia menambahkan upacara serah terima resmi akan pemerintah selenggarakan kemudian.
Ketiga jet Rafale ini adalah pengiriman pertama dari pesanan senilai $8,1 miliar untuk 42 pesawat baru dari Dassault. Pembelian itu bertujuan memodernisasi angkatan udara. Angkatan udara saat ini mengoperasikan campuran F-16 AS dan Sukhoi Su-27 serta Su-30 Rusia, beberapa mendekati masa pensiun. Rico memperkirakan lebih banyak jet akan tiba akhir tahun ini, tetapi ia tidak merinci jumlahnya.
Aerotime melaporkan ketiga jet akan memulai program pelatihan awak Rafale dan mendukung konversi operasional pilot. Menjelang pengiriman pertama, Dassault Aviation menyerahkan infrastruktur pendukung penting. Fasilitas itu mencakup pusat simulasi dan fasilitas pelatihan khusus untuk awak dan teknisi.
Modernisasi Pertahanan
Mantan Presiden Joko Widodo memulai program modernisasi pertahanan. Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mempercepat program tersebut, dan pembelian Rafale termasuk bagian dari upaya itu.
Prancis menjadi mitra utama dalam upaya ini; pada 2024 pemerintah menyelesaikan pembelian dua kapal selam serang kelas Scorpene dari Naval Group yang akan dibangun di galangan PT PAL, mengumumkan pembelian 13 radar pengawasan jarak jauh dari Thales, dan dilaporkan berminat membeli fregat ringan Prancis.
Prancis dipilih sebagai mitra karena mampu menyediakan teknologi militer canggih sekaligus memungkinkan negara ini mempertahankan kebijakan luar negeri nonblok, sehingga dapat menjaga hubungan baik dengan China dan AS tanpa bergantung berlebihan pada salah satu pihak, terutama dalam aspek keamanan.
Saat kunjungan Presiden Emmanuel Macron pada Mei, Prabowo menyebut Prancis sebagai salah satu mitra utama dalam modernisasi peralatan pertahanan dan mengatakan hubungan pertahanan kedua negara mencerminkan komitmen bersama untuk menjaga stabilitas regional. Macron menyatakan pembelian militer Indonesia dan latihan bersama menegaskan semakin dekatnya hubungan antarpersonel angkatan bersenjata. Menteri pertahanan kedua negara juga menandatangani surat pernyataan niat untuk kesepakatan senjata di masa depan.
Selain pembelian Rafale, perhatian juga tertuju pada kesepakatan lain untuk armada jet tempur: pada Juli pemerintah menandatangani kontrak 48 jet tempur generasi kelima KAAN dari Turki. Pemerintah juga menyatakan minat pada F-15EX Eagle II buatan AS dan J-10 buatan China. Awal 2025, publikasi Alert 5 melaporkan kemungkinan kelanjutan pembelian Su-35 Rusia yang sempat dibatalkan pada akhir 2021 karena kekhawatiran sanksi AS. Meski banyak kesepakatan tampak sulit terealisasi, pengamat memperingatkan bahwa pengadaan yang terfragmentasi bisa menimbulkan masalah logistik dan biaya perawatan jangka panjang.