Presiden baru mengumumkan susunan kabinetnya pada hari Minggu. Ia menempatkan para teknokrat di posisi strategis bidang keuangan untuk memimpin reformasi penting. Langkah tersebut bertujuan mengatasi perlambatan ekonomi negara. Selain itu, kabinet ini juga mencakup politisi yang berperan dalam mendukung perjalanan luar biasa sang presiden menuju kepemimpinan.
Joko Widodo, mantan penjual furnitur berusia 53 tahun, baru menjabat sebagai presiden. Ia menghadapi ekspektasi tinggi atas kepemimpinannya yang progresif. Ia berkomitmen mengangkat profesional ke posisi penting dalam pemerintahan. Ia juga bertekad menggantikan pejabat partai yang sering dikaitkan dengan korupsi dan kurangnya etos kerja.
Jokowi melakukan terobosan baru dengan melibatkan komisi anti korupsi dalam seleksi calon anggota kabinetnya. Proses ini mencakup penolakan beberapa kandidat pada tahap akhir pemilihan.
Jokowi menamai susunan pemerintahannya sebagai Kabinet Kerja dan menunjuk Sofyan Djalil, mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara, sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Sementara itu, Bambang Brodjonegoro, seorang akademisi ekonomi ternama dengan pengalaman di berbagai kementerian, memimpin Kementerian Keuangan.
Respon Investor
Para investor diperkirakan merespons positif penunjukan tersebut, namun pemerintah perlu segera meyakinkan pasar dengan kapasitas mengurangi subsidi bahan bakar yang selama ini menghambat pertumbuhan ekonomi dan mempercepat pembangunan infrastruktur.
Jokowi memilih delapan perempuan untuk bergabung dalam kabinetnya, yang terdiri dari 30 menteri dan empat menteri koordinator. Salah satu di antaranya adalah Retno Lestari Marsudi, yang saat ini menjabat sebagai duta besar untuk Belanda dan kini sebagai Menteri Luar Negeri, menjadikannya perempuan pertama yang menduduki posisi tersebut dalam sejarah negara ini.
Puan Maharani, putri dari mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Kepemimpinan Megawati kerap menuai kritik, dan banyak pendukung Jokowi mendesaknya untuk menghindari tekanan politik yang mendorong penempatan sekutu atau anggota keluarganya dalam kabinet.
Ryamizard Ryacudu, sebagai Menteri Pertahanan, sebelumnya menjabat sebagai panglima militer dan memimpin operasi besar terhadap kelompok separatis di Provinsi Aceh pada tahun 2003. Ia terkenal sebagai sosok yang tegas dengan pandangan nasionalis yang kuat.