Kicauan Mematikan: Burung Menghilang dari Hutan

Lonjakan popularitas kompetisi kicau

Lonjakan popularitas kompetisi kicau berdampak pada penurunan besar populasi shama punggung putih. Rizky Maulana Yanuar, kontributor video Mongabay, melaporkan bahwa memelihara burung mengakar dalam budaya lokal. Orang-orang di Jawa menilai seorang pria sukses jika ia memiliki pekerjaan, rumah, kendaraan, istri, dan burung.

Murai batu (Copsychus malabaricus) populer karena kicau merdu dan penampilannya; juri menilai durasi, volume, ritme dan penampilan fisik.

Menjuarai kontes bergengsi ini secara signifikan menaikkan nilai pasar burung. Burung pemenang bisa terjual hingga ratusan juta, dan pemiliknya bahkan bisa mendapat hadiah mobil.

Bahkan dengan banyaknya penangkar yang membiakkan burung, pembeli cenderung memilih burung tangkapan liar sebagai yang terbaik. Permintaan yang besar ini memberi bantuan finansial bagi masyarakat desa yang menghadapi ketidakpastian penghidupan. “Sebagai petani, panen sangat tidak pasti. Terkadang saya punya pekerjaan, terkadang tidak,” kata Peni Mak Lajang. Ia warga asli Sumatra yang beralih ke perburuan murai batu karena harganya tinggi.

Saat pertama kali, Peni melepas murai batu seharga Rp800.000 karena pada masa itu ia biasa menangkap lima ekor per minggu. Sekarang frekuensinya menurun drastis, sehingga menangkap satu ekor dalam sebulan terasa seperti berkah.

Burung Menghilang

Penangkapan murai batu secara intensif untuk keperluan lomba kicau telah menyebabkan burung-burung ini hilang dari sebagian besar hutan di Jawa dan Sumatra.

Keputusan pada 2018 yang mencabut perlindungan untuk murai batu hitam dan cokelat setelah lobi asosiasi peternak memperburuk krisis ini. Para konservasionis menilai langkah ini membuat penegakan hukum lebih sulit padahal burung tersebut sedang menghadapi tekanan hebat dari perburuan liar dan hilangnya habitat.

Upaya penangkaran berkembang cepat demi memenuhi kebutuhan pasar, namun burung kurungan tidak berkontribusi pada kelangsungan populasi liar; pasar dipenuhi stok penangkaran tanpa satupun yang dikembalikan ke habitat aslinya.

Johan Iskandar, seorang ahli etnobiologi di Universitas Padjadjaran, berpendapat bahwa perburuan liar memiliki akar yang dalam pada dimensi sosial, ekonomi, budaya dan dinamika kekuasaan serta politik masyarakat.

Ia menegaskan bahwa perlindungan seharusnya difokuskan pada manusia, bukan pada burung-burung.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *