Keretakan Indonesia-China di Natuna: Ancaman Konflik

Ketegangan terbaru Indonesia China

Ketegangan terbaru antara Indonesia dan China di perairan sekitar Kepulauan Natuna menyoroti meningkatnya kemampuan penjaga pantai China (CCG). Pada 19–20 Maret terjadi insiden diplomatik serius, ketika kapal CCG menabrak upaya Indonesia menarik kapal nelayan China ilegal. Tindakan tersebut, bersama langkah baru lainnya, menunjukkan semakin percaya diri personel CCG beroperasi jauh dari daratan utama dalam waktu lama.

Kapal patroli China yang terlibat memberi sejumlah petunjuk mengenai kemampuan negara itu. Kementerian Kelautan dan Perikanan merilis foto beresolusi rendah, tetapi foto itu tidak memastikan identitas kapal CCG. Namun, hasil perbandingan visual profil eksteriornya dengan kapal-kapal milik Cabang Laut China Selatan CCG mengindikasikan bahwa kapal ini adalah CCG3210.

Apa yang membuat kapal ini menarik? Latar belakangnya perlu mendapat penjelasan. Kapal ini berganti nama menjadi CCG3210 setelah sebelumnya terkenal sebagai Yuzheng-310 berbobot 2.580 ton. China membangun Yuzheng-310 pada 2010 untuk Komando Penegakan Hukum Perikanan (FLEC). Yuzheng-310 terlibat insiden di Natuna pada Maret 2013. Sebelumnya, April 2012, kapal ini ikut patroli di Scarborough Shoal setelah kebuntuan dengan Filipina. Juli 2012, Yuzheng-310 mengawal 30 kapal penangkap ikan China menuju Fiery Cross, menempuh pelayaran 78 jam dari Hainan.

Kapal penjaga pantai China sering mengawal nelayan hingga batas garis sembilan titik atau garis berbentuk U. Pengawalan ini bertujuan mencegah intervensi negara lain sekaligus menjadikan nelayan sebagai proksi menegakkan klaim garis berbentuk U. Hal serupa terjadi pada Yuzheng-310 yang beberapa kali memasuki zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia di Kepulauan Natuna.

Saat CCG menyerap FLEC, Yuzheng-310 berganti nama menjadi CCG3210. Angka pertama 3 menunjukkan Cabang Laut China Selatan, angka kedua 2 menandakan bobot kapal 2.000–3.000 ton. Angka terakhir berasal dari nomor lambung masa dinas sebelumnya. CCG3210 menunjukkan kesinambungan kelembagaan, karena negara menugaskan kapal dan awak secara konsisten sesuai wilayah tanggung jawab.

Keterlibatan CCG3210

Keterlibatan CCG3210 dalam beberapa insiden di Natuna menunjukkan awak kapal membangun kepercayaan diri dan pemahaman operasi. CCG3210 melaju 25 knot untuk mencegat dan menabrak Kwey Fey. Awak berpengalaman melakukan tindakan ini karena mereka memahami kemampuan kapal serta kondisi wilayah operasi.

CCG3184 menjadi kapal penting dari Cabang Laut China Selatan, sebelumnya bernama Haijian-84 berbobot 1.500 ton. Haijian-84 melakukan insiden di Laut China Selatan lebih awal dibanding Yuzheng-310 yang mulai patroli 2012. Mei 2011, Haijian-84 memutus kabel kapal survei seismik Vietnam Binh Minh-02 sekitar 43 mil tenggara Con Co. Peristiwa itu terjadi di wilayah tumpang tindih ZEE China dan Vietnam, juga dalam radius 200 mil dari Hainan.

Haijian-84 ternyata mampu berlayar lebih jauh ke timur hingga Laut China Selatan. Kapal ini menggagalkan upaya fregat Filipina BRP Gregorio del Pilar menangkap nelayan China di Scarborough Shoal April 2012. Belakangan, kapal ini bergerak lebih jauh ke selatan dan terakhir terdeteksi 22 Maret 2016 di ZEE Malaysia.

CCG3210 dan CCG3184 bersama-sama mencerminkan adanya kesinambungan terinstitusionalisasi dalam strategi CCG untuk menempatkan kapal dan awak di wilayah tanggung jawab tertentu. Kemampuan CCG3184 beroperasi lebih jauh ke timur dan selatan dari perairan dekat pantai daratan di Laut China Selatan menunjukkan bahwa CCG telah mengakumulasi keterampilan serta kepercayaan diri dalam menjalankan misi jangka panjang jauh dari pangkalan utama. Beberapa kapal beserta awaknya tampaknya ditugaskan khusus di area tertentu, sehingga semakin terampil dalam melaksanakan tugasnya.

Peningkatan Spesialisasi

Peningkatan spesialisasi berpotensi membawa dampak besar, tidak hanya pada pelatihan dan keterampilan teknis personel China, tetapi juga pada keberanian mereka berinteraksi dengan negara-negara penuntut lain di Laut China Selatan. Dengan kemungkinan mendapat arahan dan inspirasi dari perwira senior yang telah lama bertugas di kapal, kepercayaan diri yang tumbuh ini dapat mendorong awak untuk perlahan melampaui batas serta menguji keteguhan pihak lain. Seiring berjalannya waktu, unit penjaga pantai tersebut akan semakin memahami pola respons tiap negara penuntut terhadap insiden, lalu menyesuaikan langkah balasannya sambil berusaha menghindari eskalasi yang tak terkendali.

Sebagai alat kebijakan strategis, jika asumsi ini benar dan tren terus berlanjut, CCG akan semakin efektif menegakkan klaim garis berbentuk U sekaligus meredam eskalasi. Semua ini berlangsung dengan dukungan diplomatik tingkat tinggi dari China yang bekerja di balik layar.

Proses Belajar

Apabila kapal dan awak CCG sejak lama berproses belajar secara bertahap dari operasi di dekat pantai daratan hingga ke perairan yang lebih jauh, maka penguatan serta militerisasi fitur-fitur yang dikuasai China di Laut China Selatan akan semakin memperbesar dan memperkuat kapasitas institusional yang relatif baru namun penting ini, baik dari sisi kapal maupun awaknya.

Secara praktis, fasilitas yang ditingkatkan ini memberi peluang bagi kapal dan awaknya untuk beristirahat serta mengisi kembali logistik, sehingga tidak perlu sering kembali ke pangkalan di daratan. Dari sisi psikologis, keberadaan instalasi terdekat memberikan rasa aman bagi awak kapal karena mereka tahu ada dukungan yang bisa diandalkan saat darurat, termasuk ketika menghadapi cuaca buruk yang memaksa mencari perlindungan. Dengan demikian, wajar jika diperkirakan kehadiran armada penangkap ikan China di kawasan sengketa Laut China Selatan akan semakin meningkat, didukung oleh CCG yang makin terlatih, berpengalaman dan tegas. Bukti nyata terlihat pada 24 Maret 2016, ketika lebih dari 100 kapal berbendera Tiongkok—kemungkinan besar armada nelayan yang mendapat dukungan CCG—berada di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Malaysia dekat South Luconia Shoals. Ke depan, insiden serupa dengan yang pernah terjadi di perairan Natuna berpotensi muncul lebih sering dan dengan intensitas lebih tinggi.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *