Penahanan Laporan Awal AirAsia Picu Kekhawatiran Transparansi

perwakilan pemerintah mengungkapkan temuan

Seorang perwakilan pemerintah mengungkapkan pada Rabu bahwa beberapa temuan awal kecelakaan pesawat AirAsia bulan lalu kemungkinan pemerintah umumkan minggu depan. Kecelakaan itu menewaskan 162 orang. Namun, tim penyelidik memutuskan tidak merilis laporan awal secara keseluruhan kepada publik.

Pada 28 Desember 2014, pesawat Airbus A320-200 hilang dari pantauan radar saat terbang dari Surabaya ke Singapura. Insiden terjadi sebelum pesawat mencapai separuh rute dua jam penerbangan itu. Pihak berwenang menyatakan seluruh penumpang tidak selamat.

Data radar dan dua perekam penerbangan kotak hitam membantu tim penyelidik memahami peristiwa menit-menit terakhir penerbangan QZ8501.

Dalam sidang parlemen Selasa, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengatakan pesawat mengalami kenaikan kecepatan tidak biasa pada menit-menit akhir. Pesawat kemudian kehilangan daya angkat dan berhenti di udara.

Seorang sumber penyelidikan awal mengatakan bahwa tiga hari setelah kecelakaan, penyelidik menduga pesawat melakukan pendakian terlalu tajam. Pendakian itu kemungkinan besar melebihi kemampuan operasional pesawat.

Regulasi ICAO mengharuskan tim penyelidik menyerahkan laporan awal pada awal pekan depan. Tim penyelidik wajib menyampaikan laporan paling lambat 30 hari setelah kejadian kecelakaan.

Tatang Kurniadi mengatakan kepada wartawan bahwa tim KNKT akan menyusun laporan awal satu bulan setelah insiden. Tim KNKT menyerahkan laporan itu tanpa komentar atau analisis.

Tim penyelidik tidak akan mempublikasikan informasi itu secara umum, melainkan akan menyampaikannya khusus kepada negara-negara yang terlibat dalam penyelidikan.

KNKT akan menggelar konferensi pers tentang kecelakaan AirAsia pada Rabu mendatang. Pihak berwenang belum menentukan informasi apa yang akan mereka sampaikan kepada publik.

Tim penyelidik harus menyerahkan laporan akhir investigasi kecelakaan paling lambat satu tahun setelah kejadian.

Tatang menekankan bahwa hasil penyelidikan sejauh ini tidak mengungkap adanya tanda-tanda kecurangan terkait insiden tersebut.

Pada hari Selasa, Menteri Perhubungan Jonan menyampaikan penjelasan awal terkait detik-detik terakhir penerbangan QZ8501, berdasarkan hasil pantauan radar. Sementara itu, menurut Tatang, data dari kotak hitam akan mengungkapkan rincian yang lebih mendalam.

Gagal Menghubungi

Jonan menyampaikan dalam sidang parlemen bahwa pada pukul 06.17 tanggal 28 Desember 2014. Tiga menit sebelumnya kontrol lalu lintas udara gagal menghubungi pesawat dan meminta bantuan pesawat lain untuk melacak QZ8501. Pesawat A320 membelok ke kiri dan mulai naik dari ketinggian 32.000 kaki.

Dalam waktu kurang dari satu menit, pesawat meningkatkan laju pendakian secara tajam—dari 6.000 kaki per menit, naik menjadi 8.400, lalu mencapai 11.100 kaki per menit. Hanya dalam 54 detik sejak mulai mendaki, pesawat sudah berada di ketinggian 37.600 kaki, sebelum akhirnya mengalami indikasi kehilangan daya angkat (stall).

Pada pukul 06.18, pesawat mulai mengalami penurunan dengan cepat, jatuh sejauh 1.500 kaki dalam enam detik pertama. Kecepatan turun terus meningkat hingga mencapai 7.900 kaki per menit, dan saat pesawat berada di ketinggian 24.000 kaki, ia pun lenyap dari pantauan radar.

Para pilot dan analis industri penerbangan mengatakan kenaikan mendadak bersamaan dengan penurunan kecepatan dapat menyebabkan pesawat stall dan kehilangan kendali.

Tanda-tanda stall aerodinamis menunjukkan bahwa sinyal peringatan memenuhi kokpit, mengingatkan pilot tentang bahaya dan menginstruksikan penurunan hidung pesawat untuk memulihkan gaya angkat.

Menurut pilot Airbus, sistem peringatan mencakup suara otomatis yang mengucapkan “Stall Stall”, sinyal elektronik yang terdengar serta lampu merah peringatan. Pada insiden jatuhnya pesawat Air France di Atlantik tahun 2009, indikasinya menunjukkan bahwa para pilot tidak merespons peringatan ini, sehingga memicu perubahan besar dalam program pelatihan pilot di seluruh industri penerbangan.

Data yang diungkap oleh Jonan menunjukkan bahwa pesawat QZ8501 kemungkinan tidak mengalami penurunan secara terkendali. Sebaliknya, menurut pengamat industri dan para pilot, pesawat itu tampak jatuh dengan cepat sebelum akhirnya menghantam permukaan laut.

Kondisi cuaca yang tidak bersahabat di wilayah tersebut diduga menjadi salah satu penyebab kecelakaan, sementara pesawat-pesawat lain yang berada di sekitar lokasi saat itu terbang pada ketinggian antara 34.000 hingga 39.000 kaki.

Penyebab Terjadinya

Tim investigasi sedang mencari tahu penyebab terjadinya insiden ini, termasuk bagaimana respons pilot QZ8501 terhadap kondisi badai awan di wilayah tersebut, berdasarkan informasi dari sumber yang memiliki kedekatan dengan proses penyelidikan.

Menurut para ahli di industri penerbangan, toleransi terhadap kesalahan atau penyimpangan pada ketinggian tinggi jauh lebih terbatas dibandingkan saat pesawat berada dalam fase lepas landas atau terbang di ketinggian yang lebih rendah.

Meskipun sistem A320 umumnya dirancang untuk membatasi tindakan pilot agar tetap berada dalam batas-batas penerbangan yang aman, dalam situasi tertentu fitur perlindungan tersebut dapat dinonaktifkan, sehingga kontrol penuh beralih kepada pilot dan mengandalkan kemampuannya dalam menerbangkan pesawat secara manual.

Visited 4 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *