Seperti wilayah berkembang lain, pertanian menjadi sektor utama di Afrika. Sektor ini menyumbang hampir 25% PDB dan mempekerjakan sekitar dua pertiga tenaga kerja.
Secara historis, pertanian subsisten menjadi penyebab utama hilangnya habitat satwa liar. Penduduk desa yang bertambah membuka lahan kecil untuk pangan. Mereka menebang pohon, membersihkan semak, dan menanam untuk keluarga serta ternak.
Globalisasi mendorong Afrika memasuki pertanian industri yang berisiko. Perusahaan asing membeli atau menyewa lahan luas untuk monokultur seperti sorgum, singkong, kacang tanah, dan kakao. Anak-anak yang menjadi budak bahkan ikut memanen sebagian hasil. Perusahaan juga menekankan tanaman penghasil minyak untuk ekspor, terutama kelapa sawit. Buruh Afrika bekerja di bawah pengawasan investor asing.
Perusahaan dan petani mengubah lahan hutan primer serta pertanian kecil menjadi monokultur yang mendapat perlakuan kimia intensif. Permintaan besar minyak sawit dan komoditas lain dari Asia, Amerika Utara, dan Eropa memicu transformasi ini.
Afrika menghadapi dilema karena pemerintahan pusat lemah, pejabat korup, dan tenaga kerja meninggalkan pertanian tradisional demi upah lebih tinggi. Model perkebunan baru, mirip Indonesia, cepat menjadi norma di beberapa wilayah Afrika Tengah dan Barat. Wilayah itu memiliki hutan luas yang menjadi habitat beberapa kera besar terakhir. Di sinilah muncul masalah utama.
Afrika menjadi habitat tiga kera besar yang terkenal: gorila, simpanse dan bonobo; gorila paling terancam punah di antaranya.
Ada dua spesies gorila di dunia: gorila Barat (Gorilla gorilla) dan gorila Timur (Gorilla beringei). Gorila Barat mencakup gorila dataran rendah Barat (G. g. gorilla) dan gorila Sungai Cross (G. g. diehli). Gorila Timur meliputi gorila gunung (G. b. beringei) dan gorila dataran rendah timur (G. b. graueri).
IUCN Red List
IUCN Red List mengkategorikan gorila Barat sebagai sangat terancam punah. Populasinya menyusut lebih dari 80 persen dalam tiga generasi di wilayah jelajahnya. Wilayah tersebut meliputi Angola, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Kongo, Guinea Khatulistiwa, Gabon, dan Nigeria. Di Republik Demokratik Kongo, gorila Barat sudah punah dari area jelajahnya.
Ancaman utama bagi kera besar sekarang adalah perburuan liar untuk daging dan perdagangan ilegal, serta virus Ebola yang mematikan. Sejak 1980-an, penebang membuka jalan jauh ke dalam hutan untuk penebangan mekanis demi ekspor, sehingga perburuan dan wabah meningkat. Penebang membuka jalan yang memecah habitat, membuat gorila rentan terhadap perburuan komersial, penangkapan, penyakit yang manusia tularkan, dan kehilangan pakan.
Ebola tidak berbahaya bagi kelelawar, tetapi pada primata virus ini menyebar lintas spesies dan cepat menginfeksi manusia, gorila, simpanse. IUCN melaporkan hampir 600 gorila terpantau mati sekitar 95 persen pada tiga wabah di dua lokasi penelitian.
Dua subspesies gorila Timur di Rwanda, Uganda, dan RDK paling terancam oleh kepadatan penduduk pedesaan di sekitar habitatnya. IUCN mencatat ancaman utama meliputi serangan milisi, perusakan habitat untuk kayu bakar, dan perluasan lahan pertanian. Ancaman lain termasuk penggembalaan ternak ilegal, penebangan kayu liar, serta perburuan ilegal dengan jerat untuk mamalia lain. Jerat itu dapat melukai atau membunuh gorila yang tersangkut secara tidak sengaja. Pada 2004, pihak berwenang membuka sekitar 15 km² lahan menjadi pertanian. Belakangan terjadi lonjakan penebangan untuk arang ilegal dan kebangkitan perburuan untuk perdagangan hewan peliharaan serta daging liar.
Semua ini mencerminkan pengambilan langsung melalui perburuan atau penangkapan, serta hilangnya habitat akibat konversi menjadi pertanian komersial. Fenomena ini terjadi di kawasan dengan pertumbuhan penduduk tercepat di dunia.
Masa Pra-industri
Pada masa pra-industri, petani di Afrika umumnya mengolah lahan-lahan kecil sekitar satu hektare. Penjajah Eropa memperkenalkan praktik pertanian ekstensif yang mengutamakan keuntungan investor asing, bukan kebutuhan pangan lokal. Pola ekonomi-politik itu terwujud secara brutal di Kongo Belgia, dan Joseph Conrad menggambarkannya tajam dalam Heart of Darkness.
Setelah runtuhnya imperialisme pada pertengahan abad ke-20 dan terwujudnya kemerdekaan, banyak negara Afrika mengambil alih perkebunan asing. Pemerintah baru membagikan lahan kepada petani setempat sehingga mereka mengelolanya kembali dalam skala kecil.
Kemerdekaan sering kali menyebabkan kebangkitan kembali ketegangan etnis dan agama yang sempat pemerintah tekan selama masa kolonial. Konflik berskala kecil yang terjadi sesekali, infrastruktur yang kurang memadai, serta korupsi pemerintahan berlanjut menghambat penerapan pertanian berkelanjutan berbasis ilmu. Masalah ini umum di banyak bagian Afrika.
Konversi lahan menjadi perkebunan besar terus berlangsung, sehingga produktivitas panen dan perkembangan teknik pertanian tetap mandek. Akibatnya, hutan—benteng terakhir habitat kera besar—terancam dari dua arah: tebang-dan-bakar usang dan ekspansi agribisnis global. Masyarakat pedesaan miskin yang bergantung pada sumber daya terbatas hampir tidak mendapat keuntungan berarti.
Peneliti dari Universitas Cambridge dan Arcus Foundation melaporkan analisis terbaru. Mereka menemukan sejak 2005 dialokasikan sekitar 227.000 km² di Afrika sub-Sahara untuk konsesi. Sekitar 85% area itu digunakan untuk proyek pertanian skala besar. Sisanya dikelola sebagai perkebunan hutan oleh perusahaan kehutanan.
Peralihan kepemilikan ini memindahkan lahan secara besar-besaran dari petani kecil lokal ke perusahaan agribisnis internasional, sementara permintaan konsumen luar negeri menekan dan mengubah pola pemanfaatan lahan di Afrika. Laporan ini menyatakan bahwa investor komersial memfokuskan investasi pada tanaman penghasil minyak—jarak, kelapa sawit, wijen, dan bunga matahari—yang menempati lebih dari 60% total lahan yang pemerintah alokasikan di Afrika sejak 2005.
Modal Agribisnis
Di sisi lain, modal agribisnis untuk komoditas tradisional Afrika seperti kakao, kopi, teh, tembakau dan kapas tergolong kecil. Data ini menunjukkan bahwa kolonialisme modern, atau kapitalisme pasar, merusak habitat kera besar lebih parah daripada pertumbuhan pertanian subsisten yang lambat selama berabad-abad.
Dalam sebuah wawancara, Maria Belenky—salah satu peneliti utama laporan State of the Apes dan Senior Associate di Climate Advisors—menggambarkan kondisi habitat kera yang tersisa di Afrika sebagai sangat memprihatinkan dan berada di ambang perubahan besar. Ia menekankan perlunya langkah antisipatif terhadap ekspansi pertanian industri di benua ini dengan merumuskan pedoman praktis dan standar keberlanjutan sebelum mesin pemotong mulai meratakan lahan perkebunan, sebuah proses yang sudah terjadi dalam skala tertentu di beberapa negara Afrika Barat seperti Kamerun dan Gabon.
Ia menyatakan bahwa ancaman utama bagi habitat kera di banyak bagian Afrika masih berasal dari perluasan pertanian skala kecil dan penebangan kayu, baik yang bersifat industri maupun tradisional. Perburuan satwa liar turut memperburuk kondisi, terutama ketika kegiatan penebangan komersial membuka akses manusia ke wilayah hidup kera. Meskipun pertanian industri belum berkembang secepat di beberapa wilayah lain seperti sebagian Amerika Latin atau Asia Tenggara, pemerintah dan investor telah mengalokasikan sejumlah besar lahan untuk proyek pertanian besar yang belum mereka realisasikan; kita harus memperhatikan apakah pihak terkait akan melaksanakan rencana tersebut secara bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial.
Waktu menjadi faktor krusial, dan organisasi konservasi di Afrika giat menyusun standar keberlanjutan bersama sektor pertanian. Lesunya ekonomi China telah menurunkan laju ekstraksi sumber daya secara global untuk sementara—termasuk produksi minyak sawit di Indochina dan Afrika—sehingga tercipta jendela kesempatan bagi pihak yang ingin mengamankan perlindungan nyata bagi habitat kera yang sangat penting.
Kera Besar
Melindungi habitat kera besar sambil menyusun standar konservasi sebagai langkah antisipatif terhadap potensi ledakan industri pertanian global menjadi jauh lebih rumit karena berbagai persoalan struktural yang sulit diatasi di Afrika masa kini.
Penerapan metode konservasi modern dan kebijakan penggunaan lahan yang inovatif di Afrika menjadi jauh lebih rumit akibat ledakan penduduk yang sebagian besar miskin, korupsi birokrasi yang meluas serta pengambilan keputusan yang terpusat dan otoriter yang minim keterlibatan masyarakat lokal. Selain itu, praktik pengelolaan lahan yang memberi kebebasan kepada perusahaan internasional, elit perkotaan dan pemerintah pusat untuk menyetujui konsesi agribisnis besar di kawasan hutan tanpa memperhatikan kebutuhan komunitas setempat atau kelestarian habitat kera besar semakin memperburuk situasi.
Perencanaan penggunaan lahan yang lebih baik sangat penting, ujar Belenky. Ia menambahkan bahwa meskipun pemetaan yang memadai sudah tersedia untuk beberapa kawasan, masih banyak wilayah yang belum terpetakan. Jika pemerintah berniat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pertanian skala besar, mereka perlu bermitra dengan pemegang konsesi untuk memilih lokasi yang paling tepat bagi pengembangan, sehingga dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat dapat diminimalkan.
Praktik pertanian yang buruk sejak lama menjadi penyebab utama hilangnya habitat di seluruh Afrika, termasuk deforestasi masif yang tak terkendali, erosi yang terus mengikis lapisan tanah atas sehingga menyebabkan endapan lumpur dan pencemaran kimia pada aliran air, serta penurunan kesuburan tanah yang cepat; kondisi-kondisi ini mendorong pembukaan hutan lebih lanjut dan konversi lahan ke pertanian di lokasi lain.
Kabar Baik
Kabar baiknya, lahan pertanian yang telah rusak atau marginal—yang ditinggalkan dan mulai kembali menjadi hutan—seringkali bisa dipulihkan dengan teknik agronomi modern. Dengan penilaian dan pengelolaan yang teliti, sebagian dari lahan tersebut mungkin layak dijadikan lokasi konsesi kelapa sawit baru tanpa harus menebang hutan primer. Namun, lahan lain yang sudah terdegradasi tetapi kini ditumbuhi hutan sekunder dan telah direbut kembali oleh kera besar sebaiknya dilindungi, bukan diubah menjadi perkebunan. Oleh karena itu, evaluasi yang cermat oleh ilmuwan konservasi terlatih sangat penting, dan setiap keputusan harus memperhitungkan kebutuhan ekonomi masyarakat setempat.
Agar pendekatan pengelolaan lahan yang berbasis informasi dan melibatkan semua pihak bisa terlaksana, diperlukan komitmen penuh dari pemerintah Afrika, perusahaan agribisnis dan kelompok konservasi untuk bekerja sama secara lebih setara. Hal ini juga mengharuskan diakhirinya perjanjian-perjanjian rahasia yang menguntungkan segelintir politisi dan pengusaha lokal yang memiliki hubungan erat dengan konglomerat asing — sebuah hambatan besar yang harus diatasi.
Program bantuan dan pinjaman internasional harus menyediakan dukungan teknis untuk mewujudkan pertanian skala besar yang berkelanjutan, pelestarian lingkungan dan kerangka sosial-politik yang mendukung pelaksanaannya. Pendekatan ini tidak boleh mengulangi pola kolonial yang mengatur dari luar atau dari atas; melainkan perlu pendekatan ilmiah berbasis lokal yang benar-benar memahami kebutuhan spesifik serta pola kepemilikan—baik yang bersifat hukum maupun adat—di lanskap pedesaan luas yang mengelilingi kota-kota Afrika yang cepat berkembang.
Maria Belenky bertanya tentang lokasi lahan‑lahan tersebut dan apakah ada klaim kepemilikan yang saling bertabrakan. Ia menegaskan bahwa agar pertanian industri dapat berkembang secara bertanggung jawab dan berkelanjutan, diperlukan pemetaan penggunaan lahan yang rinci serta, yang lebih penting, rencana aksi untuk memanfaatkan data ini demi melindungi kawasan yang memiliki nilai ekologis dan kepentingan bagi manusia.
Singkatnya, Afrika memerlukan transformasi besar dalam sektor pertanian. Perubahan ini menuntut komitmen cepat dan sungguh‑sungguh dari pelaku bisnis internasional, kelompok konservasi serta pemerintah negara‑negara Afrika secara bersama.
Investor Agribisnis
Aliansi semacam ini harus mampu menyeimbangkan kepentingan investor agribisnis dengan kebutuhan masyarakat pedesaan dan perlindungan satwa liar di benua ini. Mitra dari negara maju maupun berkembang perlu mengubah cara pandangnya, mengakui bahwa hutan luas Afrika adalah sumber daya tak tergantikan dan bahwa keanekaragaman hayatinya merupakan warisan berharga yang layak dilestarikan demi kepentingan masyarakat Afrika dan umat manusia secara keseluruhan.
Tanpa upaya bersama, kita berisiko kehilangan selamanya hutan-hutan subur ini—tempat asal-usul manusia dan rumah bagi kerabat primata kita. Nasib gorila di dunia, yang kini terancam punah, berada dalam bahaya.