Minyak ini merupakan salah satu komoditas yang paling kontroversial dalam berbagai diskusi. Konsumen di negara maju yang peduli lingkungan memboikot produk ini karena merusak habitat alami orangutan.
Bagi keluarga berpenghasilan rendah di berbagai negara berkembang, produk ini menjadi pilihan pangan yang terjangkau karena harganya yang sangat murah.
Jutaan petani di negara berkembang mengandalkan komoditas ini sebagai sumber utama penghidupan. Komoditas itu mendorong pertumbuhan ekonomi pedesaan dan menyumbang besar pada pendapatan ekspor nasional.
Pelaku usaha dan pemerintah dalam rantai pasok minyak sawit menyatakan komitmen mendorong pertumbuhan sektor ini. Komitmen itu menekankan pendekatan yang mengedepankan prinsip keberlanjutan dalam praktik produksi dan perdagangan.
Tantangan utama terletak pada merumuskan makna dari konsep keberlanjutan secara jelas, serta mengidentifikasi langkah-langkah konkret untuk mewujudkannya.
Peneliti CIFOR menilai pembukaan lahan hutan hujan tropis untuk perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia krisis ekologis. Mereka menyebut dampaknya sangat serius bagi keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem.
Dalam buku terbaru berjudul Palms of Controversies: Oil Palm and Development Challenges, penulis mengungkapkan temuan penting. Selama beberapa dekade terakhir, Indonesia kehilangan lebih dari lima juta hektare hutan primer karena alih fungsi lahan. Malaysia mengalami deforestasi serupa dengan luas lebih dari empat juta hektare, sementara Nigeria mencatat sekitar satu juta hektare. Fenomena ini juga tercermin di berbagai belahan dunia dengan angka yang hampir setara.
Para penulis menegaskan bahwa kelapa sawit secara intrinsik bukan tanaman bermasalah. Kelapa sawit menghasilkan volume minyak jauh lebih tinggi daripada tanaman alternatif pada luasan lahan yang sama.
Sophia Gnych, peneliti konsultan di CIFOR, mengatakan tantangan utama adalah mendorong model pengembangan kelapa sawit berkelanjutan. Model itu harus menekan dampak buruk terhadap keanekaragaman hayati dan melindungi kehidupan masyarakat lokal.
Ia menyatakan bahwa industri ini memerlukan indikator yang jelas dan terukur untuk mewujudkan keberlanjutan yang dapat industri buktikan secara nyata. Namun para pemangku kepentingan belum menyepakati satu definisi untuk istilah “keberlanjutan”.
Kesepahaman Bersama
Pablo Pacheco, salah satu ilmuwan dari CIFOR, menyoroti perlunya membangun kesepahaman bersama mengenai arti dari konsep minyak sawit berkelanjutan.
Pacheco menilai perkembangan signifikan telah terjadi dalam merumuskan kriteria keberlanjutan, terutama melalui peran RSPO.
Ia menekankan perlunya mencapai kesepakatan bersama. Menurutnya, komitmen terhadap nol deforestasi dapat menjadi pendorong penting menuju praktik yang lebih berkelanjutan. Pemerintah dan pelaku industri harus lebih melibatkan petani kecil dalam rantai pasok dan melindungi hak kepemilikan lahan masyarakat lokal.
Ia mencontohkan pendekatan stok karbon tinggi (HCS). Analis memperkirakan sejumlah perusahaan besar akan mengadopsinya sebagai strategi untuk memenuhi komitmen deforestasi nol bersih.
Jane Wilkinson, Direktur Program di Climate Policy Initiative (CPI), menjalin kemitraan intensif dengan Unilever. Unilever membeli minyak sawit dalam jumlah besar dan menjadi salah satu pembeli terbesar di dunia.
Wilkinson menyatakan target utama Unilever adalah memastikan pada 2020 seluruh minyak sawit yang mereka beli transparan dan tersertifikasi berkelanjutan. Perusahaan juga harus mampu memberikan bukti atas klaim tersebut.
Perusahaan menyatakan bahwa hingga Desember 2014 mereka menelusuri sekitar 70% pembelian minyak sawit globalnya. Jejak itu mengarah ke 1.800 fasilitas pengolahan minyak mentah yang telah perusahaan identifikasi.
Unilever akan memaparkan kolaborasi dengan Climate Policy Initiative (CPI) pada Forum Lanskap Global bulan depan. Presentasi itu akan berlangsung pada sesi bertajuk Kasus Investasi di London.
Unilever menetapkan tujuan utama untuk menciptakan rantai pasok yang sepenuhnya bebas dari praktik deforestasi. Perusahaan ini juga berkomitmen untuk memberikan kontribusi positif terhadap kelestarian lingkungan serta memperkuat kesejahteraan petani kecil melalui pendekatan yang berkelanjutan.
Wilkinson menyampaikan bahwa tanpa strategi baru, pencapaian tujuan ini akan sangat menantang. Banyak pedagang lokal memperoleh pasokan dari petani kecil dan perusahaan perkebunan skala kecil serta menengah. Menjamin praktik berkelanjutan di setiap unit usaha membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Sasaran Ambisius
Wilkinson menyampaikan bahwa Unilever telah menetapkan sasaran yang ambisius di bidang bisnis, lingkungan dan sosial. Salah satu fokus utamanya adalah meningkatkan kesejahteraan petani kecil sebagai bagian dari upaya menciptakan manfaat bagi masyarakat luas. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pemerintah di tingkat lokal, nasional, dan internasional harus menjalin kemitraan baru serta berkolaborasi dengan pelaku usaha dan komunitas setempat.
Dalam Konferensi Tingkat Tinggi Iklim PBB pada bulan September 2014, bertepatan dengan penandatanganan Deklarasi New York tentang Hutan, empat perusahaan multinasional utama yang mengimpor minyak sawit dari Indonesia—Wilmar, Cargill, Golden Agri Resources dan Asian Agri—menggabungkan komitmen keberlanjutannya masing-masing ke dalam bentuk Ikrar Minyak Sawit Indonesia yang berdiri secara independen.
Mereka bergabung dengan Kamar Dagang dan Industri, dan kemudian Musim Mas juga bergabung.
Dominic Waughray, Kepala Kemitraan Publik-Swasta di Forum Ekonomi Dunia, menyatakan bahwa setelah melibatkan pembeli besar seperti Unilever, langkah selanjutnya adalah menjalin kerja sama dalam rantai nilai bersama para produsen.
Ia menyaksikan gerakan keberlanjutan lahir setelah Wilmar menunjukkan komitmen di forum Davos tahun sebelumnya, dan ia mengungkapkan bahwa perkembangan itu kini merambah sektor keuangan.
Waughray menjelaskan bahwa lembaga-lembaga publik yang menyediakan pembiayaan konsesional kini menyadari potensi penggunaan dananya untuk mendorong keterlibatan sektor swasta. Ia juga meyakini bahwa bank-bank internasional yang tergabung dalam Inisiatif Lingkungan Perbankan tahun lalu mulai melihat perlunya penyesuaian dan pengembangan produk keuangan khusus guna mendukung inisiatif ini—sebuah perubahan signifikan yang menarik dalam keseluruhan rantai nilai.
Pernyataan ini mencerminkan perubahan mendasar dalam seluruh sektor, bukan sekadar komitmen dari satu perusahaan saja.
Setelah pemerintah memperpanjang moratorium izin deforestasi di kawasan gambut dan hutan primer, fokus kini bergeser pada kebutuhan investasi besar untuk mendorong peralihan industri menuju praktik yang lebih berkelanjutan, termasuk dukungan bagi sekitar satu juta petani kecil yang menjadi tulang punggung produksi kelapa sawit nasional.
Hutan Tambahan
Meningkatkan intensitas produksi secara signifikan di lahan pertanian yang telah ada—dengan tetap menjalankan moratorium di lapangan—merupakan satu-satunya pendekatan yang memungkinkan untuk memenuhi target peningkatan produksi tanpa perlu melakukan pembukaan hutan tambahan.
Menurut Waughray, Asosiasi Petani Kelapa Sawit memperkirakan bahwa investasi yang mencakup penyediaan benih unggul, pelatihan serta kompensasi pendapatan bagi petani selama masa pertumbuhan pohon hingga berbuah, diperkirakan mencapai $8.000 per hektare. Secara keseluruhan, kebutuhan dana tersebut berjumlah sekitar $16 miliar dan diproyeksikan akan memberikan hasil dalam kurun waktu delapan tahun.
Waughray menyatakan bahwa lembaga pembangunan, meskipun memiliki itikad baik, tidak memiliki dana sebesar $16 miliar untuk dialokasikan. Sebagai alternatif, para petani kelapa sawit mengusulkan pembentukan dana baru yang akan didanai melalui pungutan ekspor sebesar $16 per ton untuk minyak sawit mentah dan $30 per ton untuk produk turunannya.
Meskipun dana tersebut belum mencukupi untuk menutup kebutuhan investasi dalam waktu dekat, ia mengusulkan agar pungutan itu dimanfaatkan untuk membantu bank lokal menyediakan pinjaman bagi petani kecil dengan tingkat bunga yang lebih rendah.
Ia menyatakan bahwa hal ini dapat menjadi contoh ideal dari kolaborasi antara sektor publik dan swasta, sekaligus membuka peluang bagi pihak yang memiliki akses pendanaan konsesi untuk memperkuat inisiatif domestik, misalnya melalui skema pendanaan bersama.
“Komitmen dari perusahaan multinasional yang menandatangani Palm Oil Pledge untuk membeli minyak sawit dari petani peserta dengan harga minimum dipandang sebagai elemen kunci terakhir dalam rantai inisiatif ini.”
Upaya seperti Pledge maupun pendekatan yang diterapkan oleh Unilever membutuhkan landasan ilmiah yang solid serta sistem tata kelola yang efektif guna memastikan keberhasilan pelaksanaannya.
Penguatan struktur lokal menjadi hal krusial dalam mendukung petani kecil menghadapi proses transisi menuju praktik berkelanjutan. Studi CPI di Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa petani individu cenderung mengalami kesulitan untuk berkembang tanpa dukungan eksternal.
Manfaat Stabil
Koperasi dinilai lebih siap memberikan dukungan, karena menawarkan bentuk organisasi yang efisien, mampu mengelola risiko dengan baik serta memberikan manfaat yang lebih stabil bagi sektor pertanian lokal dan komunitas setempat.
Jane Wilkinson dari CPI menyampaikan bahwa perusahaan memegang peranan penting dalam menyediakan layanan penyuluhan pertanian guna mendukung koperasi dan petani kecil. Hal ini dimungkinkan karena perusahaan memiliki sistem manajemen dan logistik yang canggih, serta akses langsung terhadap benih berkualitas, pupuk unggul dan praktik pertanian terbaik.
Pablo Pacheco menyampaikan bahwa fokus utama penelitian CIFOR saat ini adalah mengevaluasi model bisnis dalam beragam konteks ekonomi dan kelembagaan, serta merumuskan cara membangun kemitraan yang lebih efektif antara perusahaan kelapa sawit dan petani kecil guna meningkatkan distribusi manfaat secara lebih adil.
Ia menjelaskan bahwa hal ini berkaitan dengan upaya memperdalam pemahaman mengenai keterkaitan antara regulasi serta mekanisme publik dengan inisiatif sektor swasta dalam mendorong keberlanjutan, serta bagaimana struktur kelembagaan yang melibatkan kedua sektor dapat berperan dalam mendukung transisi menuju praktik kelapa sawit yang berkelanjutan.