Presiden Joko Widodo, sejak awal masa kepemimpinannya, menegaskan pentingnya akses teknologi bagi masyarakat dengan meluncurkan visi ambisius untuk meningkatkan kualitas hidup perkotaan melalui pemanfaatan teknologi digital. Meski para pembuat kebijakan masih berusaha mewujudkan visi tersebut, banyak dari kita sesungguhnya telah menjadi warga kota yang cerdas, memanfaatkan berbagai aplikasi dan layanan untuk menjadikan hidup lebih praktis, menyenangkan, informatif dan terhubung.
Lalu, siapa yang menilai kota metropolitan mana yang saat ini paling cerdas berdasarkan pemanfaatan aplikasi perkotaan?
Mari kita telusuri Google Play Store melalui smartphone untuk mengetahui jumlah aplikasi yang mencantumkan nama kota pada judulnya. Setelah itu, kita perhatikan jumlah unduhan dari aplikasi-aplikasi terpopuler. Metode ini sederhana, berbasis Android, dan hanya bersifat indikatif, bukan hasil yang sepenuhnya akurat. Peneliti memfokuskan pengamatan pada lima kota di Indonesia serta delapan kota di dunia sebagai perbandingan menarik.
Jakarta, Surabaya, dan Bandung menjadi pilihan utama untuk perbandingan. Peneliti memilih Batam dan Bogor karena lokasinya cukup dekat dengan Singapura dan Jakarta.
Jakarta muncul sebagai pemenang, hal yang tidak mengejutkan. Namun, fakta yang mengejutkan menunjukkan bahwa ibu kota yang berkembang pesat dan penuh layanan seperti Gojek dan Grab hanya memiliki 50 aplikasi smart city. Sebagai perbandingan, Surabaya memiliki 41 aplikasi, sedangkan Dhaka di Bangladesh—meski jauh lebih miskin—mencatat 44 aplikasi.
Rangkuman Observasi
Berikut rangkuman dari sejumlah observasi:
- Walau Gojek tidak menyertakan nama kota dalam identitasnya, aplikasi ini tetap muncul di banyak pencarian kota besar di Indonesia. Pengguna telah mengunduh aplikasi tersebut sebanyak 5 juta kali melalui Google Play Store untuk perangkat Android
- Aplikasi peta kota yang menempati posisi teratas di Jakarta hanya mencatat 50.000 unduhan. Hanya 0,25% penduduk Jakarta yang mengunduh aplikasi itu, sedangkan 20% warga Mumbai telah mengunduh aplikasi terpopuler di kota mereka
- Data di Jakarta menunjukkan bahwa pengguna ponsel di kota ini menyerupai pengguna di kota-kota Asia negara berkembang, bukan pola penggunaan di kota-kota negara maju seperti Eropa, Australia, maupun Singapura
- Walau Jakarta tergolong lebih maju, tingkat penggunaan aplikasi terlihat lebih optimal di sejumlah kota India dan Bangladesh
- Setelah serangan teror yang terjadi baru-baru ini di Jakarta, sebuah aplikasi baru bernama Stop Terrorism berhasil menarik banyak unduhan
- Di Indonesia, aplikasi kota umumnya berorientasi pada logistik, seperti jadwal bus dan kereta. Sebaliknya, aplikasi kota di tingkat global lebih menekankan aspek kualitatif, dengan fokus pada rekomendasi wisata serta layanan perjalanan. Menariknya, panduan kota dari Trip Advisor mendominasi jumlah unduhan di banyak kota
Kota pintar jelas tidak hanya diukur dari keberadaan aplikasi. Sesungguhnya, aplikasi lebih mencerminkan kecerdasan masyarakatnya daripada kota itu sendiri. Untuk benar-benar menjadi kota pintar, yang dibutuhkan adalah infrastruktur telekomunikasi tetap maupun seluler, sistem informasi yang solid serta kerja sama antara sektor swasta dan lembaga publik. Walaupun peringkat Jakarta secara global tidak setinggi yang diharapkan, kota ini memiliki salah satu aplikasi urban paling inovatif dan mendunia, yaitu Gojek. Aplikasi tersebut telah diunduh lima juta kali, dan jika diasumsikan separuh penggunanya berasal dari Jakarta, maka lebih dari 10% penduduk kota ini telah mempertimbangkan untuk menggunakan Gojek.