Intervensi Lokal Terhambat, Infrastruktur Kumuh Tetap Rentan

PNPM Mandiri Perkotaan membantu

Sejak 2008, PNPM Mandiri Perkotaan membantu jutaan keluarga miskin memperbaiki infrastruktur lingkungannya. Program ini mencakup sekitar 11.000 kelurahan dan lebih dari 30 juta penerima manfaat. Program meningkatkan akses jalan, memperbaiki permukiman, serta memperluas layanan air dan sanitasi. Skema sosial dan dana bergulir mendukung peningkatan mata pencaharian keluarga. Perempuan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan melebihi target 40%, dan fasilitasi yang tepat sasaran terus memperkuat peran mereka.

Tantangan

Meskipun ekonomi tumbuh pesat sejak krisis Asia 1998, pada 2014 lebih dari 18 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan. Sekitar 100 juta orang, atau 40% populasi, berada tepat di atas garis kemiskinan sehingga rentan jatuh miskin. Ketimpangan pendapatan meningkat; koefisien GINI mencapai 41 dan lebih tinggi di daerah perkotaan. Banyak warga miskin mengalami akses terbatas atau menurunnya layanan infrastruktur dasar. Pada 2009 hanya 23% penduduk menerima pasokan air bersih berkelanjutan melalui pipa, turun dari 36% pada 2000. Kurang dari 3% rumah tangga perkotaan memiliki sambungan ke saluran pembuangan terpusat. Sebagian besar rumah tangga masih menggunakan toilet individu atau bersama dan mengandalkan septik tank yang sering tidak melalui pengolahan. Septik tank sering meresap ke air tanah dan mencemari sumber air. Pihak berwenang hanya mengumpulkan 20% sampah padat dan membuangnya ke tempat pembuangan yang sering tidak higienis. Akibatnya, layanan publik dasar semakin langka di permukiman kumuh.

Pendekatan

PNPM telah lama mendukung pembangunan infrastruktur dan membangun tata kelola di tingkat lokal. Pada 2007 PNPM Mandiri Perkotaan memperkenalkan model peningkatan permukiman kumuh berbasis tata ruang. Model tersebut menyusun rencana spasial terpadu bersama masyarakat untuk menarik investasi infrastruktur. Pemerintah daerah memimpin pemilihan kawasan prioritas dan bekerja sama dengan warga dalam pelaksanaannya. Program menggunakan sistem informasi manajemen berbasis web untuk memantau pelaksanaan di 269 kota dan 11.000 kelurahan. Situs proyek www.p2kp.org menerima lebih dari 12.000 kunjungan per hari. Situs cepat menyebarkan informasi hasil dan dampak, sehingga meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Hasilnya, proses pengambilan keputusan menjadi lebih baik. Situs itu juga menjadi pusat komunikasi bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, konsultan, perusahaan, dan fasilitator komunitas.

Hasil

PNPM Mandiri Perkotaan meningkatkan investasi pada infrastruktur skala kecil, layanan sosial, dan pinjaman bergulir, menggunakan lebih dari 80% anggaran untuk tujuan tersebut; sisa dana pemerintah gunakan untuk meningkatkan kapasitas dan memberikan bantuan teknis guna memperkuat tata kelola lokal. Hasil utama meliputi:

  • Proyek meningkatkan akses ke infrastruktur dasar dengan membiayai lebih dari 12.280 km jalan lingkungan, 3.400 km drainase, 12.600 titik penyediaan air dan 1.100 fasilitas pendidikan
  • Akses ke kredit mikro dan layanan sosial meningkat; proyek membiayai dana pinjaman bergulir untuk lebih dari 670.000 penerima manfaat dan program sosialnya menjangkau sekitar 340.000 orang. Studi 2012 memperkirakan 90% wilayah perkotaan peserta mengalami peningkatan akses layanan ekonomi dan sosial, melampaui target 80%
  • Proyek ini membangun infrastruktur dengan biaya sekitar 20% lebih rendah. Proyek mendanai fasilitator yang membantu masyarakat melaksanakan pembangunan melalui kontrak komunitas. Pemeriksaan acak triwulanan menunjukkan bahwa di 87% wilayah perkotaan peserta, biaya rata‑rata infrastruktur yang melalui pembiayaan proyek 33% lebih rendah daripada pekerjaan serupa oleh kontraktor pemerintah daerah. Proyek menginvestasikan lebih dari $300 juta untuk infrastruktur dan menghasilkan penghematan sekitar $100 juta
  • Sekitar 87% penerima manfaat menyatakan puas atas perbaikan layanan dan tata kelola di tingkat lokal. Analisis kuantitatif menunjukkan 75% responden menilai prosesnya transparan, partisipatif dan adil. Evaluasi 2011 menilai bahwa sebagian besar proyek yang mendapat pembiayaan PNPM Mandiri Perkotaan memiliki kualitas baik

Kontribusi Grup Bank

Bank berkomitmen menyalurkan lebih dari $1,2 miliar sejak 1999 untuk program pembangunan komunitas perkotaan, mendapat dukungan IDA, IBRD, dan dana perwalian multi-donor. Dana pendamping dari pemerintah pusat dan daerah serta kontribusi masyarakat menutup sekitar 20% biaya proyek. Pemerintah mengalokasikan pinjaman bank terutama untuk bantuan teknis dan penguatan kapasitas karena mereka menilai komponen tersebut paling efektif memperkuat tata kelola program.

Mitra

Setelah tsunami Samudra Hindia 2004 dan gempa Yogyakarta 2006, GFDRR memberikan bantuan teknis untuk memasukkan aspek manajemen risiko bencana ke dalam PNPM Mandiri Perkotaan. Proyek ini juga memanfaatkan pembiayaan paralel dari Bank Pembangunan Islam yang menjangkau 14 provinsi, sementara pinjaman IBRD dan kredit IDA dibatasi pada 19 provinsi. Pada 2012, fasilitas pendukung PNPM yang didanai beberapa donor menyetujui proposal bersama pemerintah dan USAID untuk dukungan perkotaan di Aceh senilai $24 juta. Selain itu, proyek mendukung rehabilitasi pasca bencana berbasis masyarakat, termasuk program rekonstruksi perumahan REKOMPAK.

Melangkah Maju

Keberlanjutan PNPM Mandiri Perkotaan telah terbukti. Keterlibatan aktif masyarakat menjamin dukungan dan permintaan, sementara peran pemerintah daerah memperkuat institusionalisasi dan skala program; investasi yang dilakukan menunjukkan kualitas baik dan biaya lebih efisien dibandingkan kontrak konvensional. Pada 2015, PNPM Mandiri Perkotaan dijadikan model untuk persiapan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) pemerintah, yang menargetkan penghapusan permukiman kumuh dan akses universal air bersih serta sanitasi pada 2019. Sebagai contoh, dibentuk platform nasional dengan total anggaran $3 miliar yang didanai oleh pemerintah pusat dan daerah, sektor swasta, masyarakat dan donor multilateral; Bank Dunia menyediakan pembiayaan IBRD sebesar $433 juta, sementara Bank Pembangunan Asia dan Bank Pembangunan Islam akan mendukung sebagian kota KOTAKU hingga 2020.

Penerima Manfaat

Mas’ud, pemilik kios di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mendapat manfaat dari dana pinjaman bergulir PNPM Mandiri Perkotaan untuk modal usahanya. Ia mendaftar setelah mendengar informasi dari ketua lingkungan dan mengisi formulir; kini ia sudah menerima pinjaman untuk putaran kelima—mulai dari Rp250.000 pada pinjaman pertama dan meningkat setiap tahun hingga mencapai Rp2 juta.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *