Insiden di utara Natuna terjadi saat kapal penjaga pantai China memaksa patroli Indonesia melepaskan kapal pukat. Peristiwa itu menegaskan pemerintah harus menghadapi tumpang tindih zona ekonomi eksklusif 200 mil dengan klaim China. Klaim garis sembilan titik China meluas jauh ke Laut China Selatan dan memicu ketegangan kawasan.
Indonesia tidak mengklaim Kepulauan Spratly yang menjadi perebutan. Namun, peristiwa ini langsung menguji tekad Presiden Joko Widodo. Presiden Joko Widodo berkomitmen menjadikan Indonesia sebagai kekuatan maritim yang mendapat penghormatan di kawasan. Kebijakan tersebut menuntut pemerintah menegaskan kedaulatan atas wilayah laut yang sangat luas.
Pemerintah telah menunjukkan dukungan besar terhadap inisiatif ASEAN merumuskan kode etik untuk mencegah konflik terbuka. Namun, langkah pemerintah sejauh ini tampak janggal dan kurang terarah dalam menghadapi dinamika kawasan. Rivalitas antar kekuatan besar semakin intensif, membuat kebijakan pemerintah terlihat tidak konsisten dan kurang meyakinkan.
Pada masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, tiga insiden berlalu tanpa tindakan tegas. Dua insiden terjadi pada tahun 2010, sementara satu insiden berlangsung pada 2013. Saat itu, kapal perang China memaksa kapal pengawas Indonesia melepaskan nelayan China yang tertangkap di perairan Natuna.
China menimbulkan ketidakjelasan melalui garis sembilan titik dan enggan menjelaskannya. China menggunakan ancaman kekuatan dalam rangkaian insiden yang jarang mendapat publikasi untuk memaksakan tafsir batas maritim.
Jokowi mengambil langkah hati-hati dalam berhubungan dengan China terkait perusahaan asal negara tersebut. Perusahaan China mendanai sekaligus mengerjakan sejumlah proyek infrastruktur utama di Indonesia. Proyek itu mencakup pembangunan kereta cepat Jakarta–Bandung serta pembangkit listrik tenaga batu bara berkapasitas besar.
Dalam insiden kali ini, pemerintah menahan delapan awak kapal dan mengajukan protes resmi. Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, dengan penuh ketegasan memanggil Duta Besar China, Xie Feng, untuk meminta klarifikasi.
Pernyataan Pemerintah
Pemerintah konsisten menyatakan tidak ada perselisihan dengan China di Laut China Selatan. Namun, pernyataan Kementerian Luar Negeri China menegaskan kapal pukat berada di kawasan penangkapan ikan tradisional. Hal tersebut sulit mendapat pengabaian karena menimbulkan pertanyaan serius mengenai klaim maritim dari kedua negara.
Sejak awal masa kepresidenan Jokowi pada akhir 2014, pemerintah menenggelamkan 155 kapal asing. Kapal-kapal tersebut terbukti terlibat dalam praktik penangkapan ikan ilegal di wilayah perairan Indonesia. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah menjaga kedaulatan maritim dan melindungi sumber daya laut nasional. Namun, hanya satu kapal yang berasal dari China—dan penangkapannya sendiri terjadi jauh sebelumnya, yakni pada tahun 2009.
Susi menerima surat tanpa tanda tangan berstempel Kedutaan Besar China di kediamannya. Surat itu secara tegas memperingatkan konsekuensi serius jika pemerintah menenggelamkan kapal pukat China yang tertangkap. Pemerintah Indonesia sebelumnya menenggelamkan kapal dari Thailand, Vietnam, dan negara tetangga lain. Seorang mantan diplomat senior menilai China menyusun visi global jangka panjang yang terarah. Dalam konteks itu, China memandang Laut China Selatan sebagai bagian penting dari visi strategis mereka. China tidak hanya merujuk pada hukum laut, tetapi menjadikan segala hal yang mendukung kepentingannya sebagai pedoman.
TNI mempertimbangkan dinamika di Laut China Selatan dan tanggung jawab menjaga kepulauan jalur perdagangan global utama. Namun, TNI masih memiliki peran terbatas dalam perencanaan strategis nasional yang seharusnya lebih komprehensif.
Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan sibuk menangani urusan domestik sehari-hari sehingga mengabaikan strategi jangka panjang, termasuk perkembangan kawasan dan penempatan militer menghadapi dinamika regional.
Komentar TNI
Sebaliknya, lantaran TNI nyaris tidak banyak memberikan komentar mengenai keterlibatan kekuatan besar di kawasan, secara otomatis Kementerian Luar Negeri mengambil alih kepemimpinan dalam menjalankan kebijakan bebas dan aktif. Kebijakan ini pada dasarnya bertumpu pada upaya memperkuat peran ASEAN sebagai komunitas regional yang tengah berkembang pesat, meski masih belum sepenuhnya solid.
TNI mengakui dalam draf Buku Putih Pertahanan 2014 bahwa ketegangan di Laut China Selatan bisa berdampak pada Indonesia jika berkembang menjadi konflik.
👉 Dengan kalimat aktif, subjek langsung melakukan tindakan sehingga lebih tegas dan jelas.
Apakah Anda ingin saya buat versi ini lebih formal akademis atau lebih ringkas populer?
Meski demikian, TNI cenderung mengecilkan ancaman dari luar negeri dan lebih memusatkan perhatian pada isu-isu prioritas seperti terorisme internasional, kejahatan lintas batas serta imigrasi ilegal.
Selama dua tahun terakhir, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo merumuskan isu-isu tersebut menjadi sebuah teori konspirasi internasional baru, yang menyebutkan bahwa negara-negara asing—tanpa disebutkan identitasnya—diduga memanfaatkan proksi dalam negeri untuk melemahkan Indonesia dari dalam sekaligus merebut sumber dayanya.
Bukti konkret yang mendasari gagasan tersebut masih belum jelas, namun hal ini berfungsi sebagai legitimasi ideologis bagi upaya militer untuk kembali menonjol dalam urusan keamanan internal. Seperti dicatat dalam laporan terbaru Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC): “Bagi TNI, keunggulan utama dari tesis perang proksi adalah kemampuannya menggabungkan ancaman internasional dan domestik, sekaligus menegaskan bahwa untuk menghadapi ancaman eksternal, militer perlu memperkuat peran dalam keamanan internal.”
Meskipun tampak ada hal-hal di permukaan, sejumlah pejabat di kawasan yang lebih luas menilai bahwa Indonesia belum memiliki arah kebijakan luar negeri yang jelas. Kritik dari dalam negeri pun sejalan, dengan menyebut bahwa akar persoalan terletak pada keseluruhan mekanisme penyusunan kebijakan ini sendiri.
Menjadikan ASEAN sebagai pijakan utama dalam kebijakan yang cenderung reaktif tetap dianggap kurang meyakinkan, sebab banyak kalangan menilai bahwa penerapan Komunitas Ekonomi ASEAN justru lebih dipandang sebagai ancaman daripada peluang, terutama akibat keterbatasan di bidang logistik dan pendidikan.
Pivot Asia
SBY dengan jelas mendukung kebijakan Pivot to Asia yang digagas Presiden AS Barack Obama—termasuk latihan marinir Amerika di wilayah utara Australia—karena ia menilai langkah ekspansif China di kawasan ini berpotensi menimbulkan perpecahan dalam ASEAN.
Walaupun hal ini dapat dianggap sebagai contoh positif dari kepemimpinan SBY dalam bidang kebijakan luar negeri, pemerintahan setelahnya tidak berhasil menegaskan peran kepemimpinan yang diharapkan, maupun mendorong penerapan kode etik yang diharapkan mampu menjadikan Laut China Selatan lebih aman.