Konfederasi Sepakbola Asia melarang Indonesia berpartisipasi dalam semua ajang sepakbola internasional. Larangan itu mencakup pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018 yang penyelenggara jadwalkan minggu depan. Konfederasi memberlakukan larangan karena pemerintah mengintervensi pengelolaan liga sepakbola domestik.
Pada akhir pekan, pemerintah menerima pemberitahuan resmi bahwa telah federasi sepakbola dunia, FIFA, kenai sanksi. Pada Rabu, Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) mengonfirmasi larangan itu mencakup partisipasi dalam kualifikasi Piala Dunia dan Piala Asia 2019.
Pihak penyelenggara menempatkan Indonesia di Grup F untuk babak lanjutan yang juga menjadi kualifikasi dua turnamen besar. Namun, pihak penyelenggara menyatakan negara itu tidak dapat mengikuti kompetisi tersebut.
Panitia menjadwalkan Indonesia menghadapi Taiwan pada 11 Juni 2015, lalu melawan Irak lima hari kemudian. Namun, Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) membatalkan kedua pertandingan itu.
Otoritas sepakbola regional Asia mengatakan akan memperluas sanksi terhadap tim nasional dan klub-klub Indonesia hingga mencakup berbagai turnamen lain.
FIFA memberi izin tim nasional Indonesia tetap berpartisipasi dalam Pesta Olahraga Asia Tenggara di Singapura. FIFA memberi izin karena kompetisi itu sudah berlangsung. Pihak berwenang tetap memberlakukan seluruh sanksi tanpa pengecualian.
Penentuan Tim
Pihak berwenang memberlakukan larangan setelah Kementerian Pemuda dan Olahraga menghentikan musim kompetisi sepakbola nasional akibat konflik penentuan tim yang layak berpartisipasi dalam ISL.
Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), yang berada di bawah kewenangan kementerian, mengusulkan agar tim Persebaya Surabaya dan Arema tidak boleh bertanding. Namun, PSSI menolak usulan tersebut.
Pemerintah mengakui tanggung jawab atas sanksi tersebut, tetapi tetap berkomitmen melanjutkan pembenahan sistem kompetisi sepakbola nasional.
FIFA menunjukkan keraguan terhadap keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan sepakbola, sementara Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) menyatakan bahwa sanksi yang dijatuhkan akan mencakup tidak hanya aktivitas pertandingan, tetapi juga aspek pengembangan program sepakbola secara keseluruhan.
AFC menyatakan bahwa selama status pembekuan PSSI masih berlaku, sepakbola Indonesia tidak akan memperoleh akses atau manfaat dari berbagai program pengembangan yang diselenggarakan oleh AFC maupun FIFA.
Para pejabat PSSI dilarang untuk berpartisipasi dalam kegiatan pelatihan, seminar maupun lokakarya yang diselenggarakan oleh AFC atau FIFA.