El Nino Memperburuk Krisis Kekeringan dan Kebakaran

El Nino sangat kuat

El Nino yang sangat kuat saat ini tengah berlangsung di Samudra Pasifik. Nelayan Peru utara pertama kali memakai istilah ini untuk menyebut arus hangat di pesisir selatan yang muncul sekitar Natal, lalu menamainya dalam bahasa Spanyol sebagai Anak Kristus. Saat ini, para ahli meteorologi menggunakan istilah El Nino untuk menjelaskan kenaikan suhu permukaan laut yang signifikan di kawasan Pasifik khatulistiwa bagian timur dan tengah yang terjadi secara berkala.

Para ahli meteorologi memantau peristiwa El Nino dengan cermat karena kekuatannya mampu mengubah pola cuaca di berbagai belahan dunia. Dampak yang paling sering muncul dari El Nino kuat adalah perubahan distribusi curah hujan. Pada periode El Nino, hujan yang biasanya terkonsentrasi di Indonesia dan Pasifik Barat bergeser ke arah timur menuju Pasifik Tengah, sehingga sejumlah wilayah mengalami kekeringan.

Data Satelit

Peristiwa ini terjadi pada tahun 2015. Data satelit curah hujan dari misi Global Precipitation Measurement (GPM) mencatat penurunan curah hujan di beberapa wilayah Kalimantan dan Sumatra pada September 2015. Pada peta, warna cerah menandakan daerah dengan curah hujan tinggi. Warna biru menunjukkan wilayah dengan curah hujan sangat sedikit. Sementara itu, area berwarna abu-abu menandakan tidak adanya hujan sama sekali.

Pada September, Sumatra Utara diguyur hujan deras, sedangkan Sumatra Selatan hampir tidak menerima hujan. Kondisi serupa terjadi di Kalimantan, di mana Malaysia mendapat hujan, sementara Kalimantan Tengah dan Selatan tetap kering. Kekeringan ini memperburuk kebakaran musiman yang sengaja dilakukan petani untuk membuka lahan dan mengelola tanaman. Banyak kebakaran kemudian lepas dari kendali petugas, terus menyala sepanjang September hingga Oktober, dan menghasilkan asap berbahaya selama berminggu-minggu. Pada 24 September, instrumen MODIS di satelit Terra milik NASA merekam citra asap yang menutupi langit. Garis merah pada citra menandai titik api yang terdeteksi sensor.

Musim kebakaran besar dapat menjadi peringatan bagi wilayah lain di dunia. Hutan Amazon di Amerika Tengah dan Selatan menghadapi risiko kebakaran yang meningkat pada tahun 2016 akibat fenomena El Nino yang sedang berlangsung, menurut James Randerson, ilmuwan dari University of California, Irvine, dalam konferensi pers pada pertemuan American Geophysical Union bulan Desember.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *