Bencana Ekologi: Kebakaran Perburuk Krisis Iklim Global

ahli memprediksi kebakaran kembali

Para ahli memprediksi kebakaran akan kembali muncul dalam beberapa bulan mendatang. Para ahli memperkirakan kebakaran itu akan memengaruhi suhu hingga wilayah laut jauh dari perairan nasional.

Kebakaran melepaskan karbon dioksida dan metana yang terbukti mempercepat pemanasan global. Riset terbaru menunjukkan kebakaran hutan dan lahan gambut menghasilkan emisi tinggi dari gas rumah kaca lain yang lebih kuat.

Para peneliti menggunakan pesawat jet khusus dalam misi di Guam untuk mengumpulkan data troposfer. Data tersebut membuktikan kebakaran hutan berkontribusi pada kenaikan kadar ozon. Sama seperti metana, ozon termasuk gas rumah kaca yang memiliki daya pemanasan tinggi namun masa hidupnya relatif singkat.

Daniel Anderson, kandidat PhD di University of Maryland sekaligus anggota tim peneliti dari universitas dan pemerintah, menjelaskan bahwa hampir setiap penerbangan menunjukkan kadar ozon melampaui standar kualitas udara Amerika Serikat. Ia menambahkan, tim ingin menelusuri asal-usul ozon tersebut karena lokasinya jauh dari sumber polusi.

Nature Communications minggu lalu mempublikasikan studi yang menyoroti hubungan kebakaran dengan ozon troposfer. Temuan itu mengejutkan banyak pihak, sementara sebagian ilmuwan dari misi Guam menolak menerima kesimpulan tanpa bukti tambahan. Tim peneliti lain berencana merilis makalah lanjutan berdasarkan data misi dalam beberapa bulan hingga tahun mendatang.

Peneliti yang berbeda pandangan menyoroti adanya indikasi berupa udara kering di sekitar ozon dan keberadaan berlapis-lapis senyawa kimia. Bukti tersebut mengarah pada kesimpulan bahwa gas rumah kaca tidak bergerak vertikal dari kebakaran ke troposfer tropis bagian tengah, melainkan masuk secara horizontal dari wilayah beriklim lebih dingin.

Menurut Bill Randel, seorang pakar kimia atmosfer di Pusat Penelitian Atmosfer Nasional, hasil penelitian ini bersifat kontroversial. Ia mengatakan kebakaran dapat memengaruhi sebagian komponen ozon, tetapi ia menekankan bahwa faktor alam lebih menentukan. Ia menambahkan bahwa perdebatan ilmiah mengenai hal ini masih aktif.

Pengumpulan Data

Pengumpulan data kimia detail melalui penerbangan di Guam memberikan informasi yang tidak tersedia dari satelit. Tim Anderson menegaskan melalui analisis bahwa molekul ozon dan senyawa lain menunjukkan polusi berasal dari kebakaran hutan.

Dengan bantuan model, para peneliti dapat mengidentifikasi bahwa gumpalan polusi berasal dari kebakaran yang terjadi di kawasan Asia Tenggara maupun Afrika.

Anderson menjelaskan bahwa aktivitas manusia memicu sebagian besar kebakaran, bukan semata kebakaran hutan. Ia menambahkan bahwa membatasi emisi spesies pembentuk ozon akan memberikan dampak iklim lebih cepat daripada hanya mengurangi emisi karbon dioksida.

Para peneliti melakukan pengambilan sampel lewat penerbangan di Samudra Pasifik barat tropis dan memperkirakan hasilnya berdampak pada kebakaran serta suhu global. Para peneliti tidak menilai secara langsung dampak ozon terhadap pemanasan regional, meski Anderson dan rekan-rekannya menekankan pentingnya hal tersebut.

Anderson menjelaskan bahwa ozon merupakan gas rumah kaca antropogenik terpenting ketiga. Oleh karena itu, setiap kenaikan di atas kadar alami di Pasifik barat kemungkinan besar akan memberikan dampak signifikan terhadap iklim, tidak hanya di wilayah tropis, tetapi juga secara global.

Petani membuka lahan perkebunan kelapa sawit dan akasia dengan cara membakar, sehingga kebakaran terjadi. Api meluas ke rawa-rawa kering dan membakar gambut yang sangat mencemari. Pasar dunia terus menampung minyak sawit yang hadir di banyak produk supermarket, sementara industri pulp dan kertas menanam akasia sebagai bahan baku.

Kebakaran yang terjadi akhir tahun lalu memicu krisis kesehatan di Asia Tenggara. World Resources Institute menganalisis bahwa kebakaran setiap hari menghasilkan emisi gas rumah kaca lebih besar daripada pembangkit listrik Amerika Serikat. Fenomena El Niño yang sedang berlangsung memperburuk kondisi ini, dan para ahli memprediksi kebakaran akan kembali terjadi pada Februari hingga Maret.

El Nino

Susan Minnemeyer, manajer pemetaan dan data dari lembaga nirlaba yang meneliti isu ini, menjelaskan bahwa El Nino memicu kekeringan yang memungkinkan terjadinya kebakaran. Ia menekankan bahwa kebakaran alami sangat jarang terjadi, dan hampir seluruh kebakaran berlangsung di lahan yang sudah dikeringkan.

Larry Horowitz, seorang ahli kimia atmosfer dari Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA), tidak terlibat dalam penelitian Anderson maupun termasuk dalam kelompok ilmuwan yang menolak temuan tersebut. Ia menilai bahwa makalah ini secara logis mampu menjelaskan tingginya kadar ozon troposfer yang memang sudah diketahui ada di kawasan tersebut.

Menurut Horowitz, keyakinannya belum penuh, tetapi hasil penelitian memberikan petunjuk kuat tentang kemungkinan mekanisme tersebut.

Visited 3 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *