Walaupun telah berlangsung hampir lima dekade silam, peristiwa konfrontasi tetap menempati posisi khusus dalam memori kolektif bangsa Singapura. Pertanyaannya, apa yang membuat momen sejarah ini tetap relevan bagi Singapura di masa kini?
Konfrontasi 1963–1966 adalah kampanye berintensitas rendah yang Soekarno prakarsai untuk menolak pembentukan Federasi Malaysia. Saat itu, Singapura menjadi bagian federasi pada 1963–1965. Sebagian besar konflik terjadi di perbatasan Indonesia–Malaysia di Kalimantan, namun Singapura turut terdampak. Dampaknya signifikan pada keamanan dan perekonomian. Insiden paling menonjol ialah pengeboman MacDonald House di Orchard Road pada 10 Maret 1965. Dua marinir Indonesia melancarkan aksi itu, menewaskan tiga orang dan melukai 33 lainnya. Peristiwa ini memicu ketegangan diplomatik yang berkepanjangan antara Indonesia dan Singapura, yang baru mereda pada tahun 1973.
Pemerintah kota menempatkan monumen peringatan di seberang MacDonald House pada 10 Maret 2015 demi mengenang pengeboman dan masa Konfrontasi. Peringatan simbolis itu hadir, namun banyak warga Singapura belum memahami detail insiden tersebut. Mereka juga belum memahami latar belakang Konfrontasi secara menyeluruh. Pertanyaannya, sejauh mana konfrontasi berdampak terhadap Singapura, dan mengapa pengaruhnya masih terasa hingga kini?
Pada 27 Mei 1961 di Singapura, Tunku Abdul Rahman memaparkan rencana federasi baru. Federasi itu mencakup Malaya, Singapura, serta koloni Inggris di Kalimantan Utara, Sarawak, Sabah, dan Brunei. Di sisi lain, Presiden Soekarno mengusung visi Indonesia Raya yang menyatukan wilayah kepulauan. Ia menilai Federasi Malaysia sebagai proyek neo-kolonial Barat untuk mempertahankan pengaruh di Asia Tenggara. Karena itu, Soekarno menyatakan penolakan tegas terhadap gagasan federasi tersebut.
Setelah upaya diplomatik lewat gagasan Maphilindo gagal, Malaysia tetap terbentuk pada 1963. Menyusul itu, Indonesia meningkatkan kampanye untuk menggagalkan keberadaan Malaysia. Awalnya tekanan bersifat politik, ekonomi, dan psikologis. Kampanye kemudian berkembang menjadi aksi agresi bersenjata terhadap Federasi Malaysia.
Usir Duta Besar
Malaysia resmi terbentuk pada 16 September 1963. Indonesia merespons dengan mengusir duta besar Malaysia. Indonesia juga memutus perdagangan dengan Malaysia dan Singapura pada 21 September 1963. Pertempuran bersenjata meletus lebih awal pada April 1963 di Tebedu, Sarawak. Pertempuran berlangsung hingga September 1965. Sebagian besar pertempuran terjadi di perbatasan Kalimantan Indonesia–Malaysia. Konflik kemudian meluas ke Semenanjung Malaysia dan Singapura. Pada 1964–1966, dua batalyon Resimen Infanteri Singapura ikut bertempur. Mereka menghadapi pasukan Indonesia di Johor dan Sabah.
Salah satu sasaran utama Indonesia dalam konfrontasi di Singapura adalah mengacaukan stabilitas sektor keuangan dan perdagangan negara tersebut. Dampaknya terasa signifikan, di mana pada tahun 1964, Singapura kehilangan hampir 24% volume perdagangan dengan Indonesia, dan serangkaian pengeboman turut menurunkan minat investor asing untuk masuk. Keberadaan tentara Indonesia yang menyamar sebagai warga sipil memicu kerusuhan rasial pada 4 September 1964, menurut banyak pihak.
Aparat keamanan Singapura menggagalkan upaya sabotase fasilitas minyak oleh 10 marinir Indonesia pada 14 November 1964. Berkat laporan warga, aparat mencegah dua operasi pendaratan di timur Singapura pada 1 dan 28 Desember 1964. Selain menyasar instalasi strategis di pulau tersebut, pasukan reguler Indonesia turut melancarkan serangan bom dengan metode tabrak lari, termasuk insiden pengeboman di MacDonald House.
Operasi besar terakhir terjadi pada tanggal 26 Juni 1965, ketika empat kapal yang mengangkut 26 personel militer Indonesia tiba dengan tujuan menyerang kantor polisi dan pembangkit listrik. Namun, misi tersebut gagal setelah seluruh kapal berhasil ditenggelamkan oleh pasukan keamanan. Setelah Singapura resmi memisahkan diri dari Federasi Malaysia pada tanggal 9 Agustus 1965, rangkaian serangan dan pengeboman oleh Indonesia di wilayah Singapura pun terhenti. Kejatuhan Presiden Soekarno akibat kudeta pada tanggal 30 September 1965 mengalihkan kekuasaan kepada Jenderal Soeharto, yang kemudian secara resmi menyatakan berakhirnya konfrontasi pada tahun 1966.
Bom MacDonald House
Satu-satunya serangan Indonesia yang berhasil di Singapura terjadi pada tanggal 10 Maret 1965, berupa pengeboman di MacDonald House, yang saat itu menampung sebuah bank asal Inggris dan kantor Komisi Australia. Dua anggota Korps Komando Operasi (KKO), unit marinir Indonesia, ditangkap saat berusaha melarikan diri menggunakan perahu, kemudian diadili dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1968. Meskipun hubungan bilateral antara Indonesia dan Singapura mulai membaik setelah transisi kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto, pelaksanaan hukuman mati terhadap kedua pelaku pengeboman tersebut sempat memicu ketegangan diplomatik antara kedua negara.
Meskipun Menteri Luar Negeri Adam Malik dan Presiden Soeharto telah mengajukan permohonan grasi, pemerintah Singapura tetap menjalankan keputusan hukuman mati terhadap dua marinir Indonesia pada tanggal 17 Oktober 1968. Jenazah keduanya diserahkan kepada Kedutaan Besar Indonesia dan dibawa pulang ke tanah air, di mana dihormati sebagai pahlawan nasional. Kedatangan jenazah disambut oleh kerumunan masyarakat di bandara dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Di Indonesia, insiden protes terjadi ketika sekelompok pemuda menyerbu Kedutaan Besar Singapura dan merusak bendera negara tersebut. Para staf misi diplomatik Singapura telah meninggalkan gedung sebelum aksi kekerasan berlangsung dan tidak mengalami cedera.
Indonesia mulai memulihkan hubungan diplomatik pasca-insiden pengeboman setelah kunjungan resmi pertama Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, ke Indonesia pada bulan Mei 1973, yang ditandai dengan penghormatan beliau di makam dua marinir Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Luar Negeri S. Rajaratnam dan Adam Malik menandatangani perjanjian perbatasan yang menetapkan garis laut antara kedua negara. Selanjutnya, pada bulan Agustus 1974, Perdana Menteri Lee menyambut kunjungan resmi pertama Presiden Soeharto ke Singapura, yang menandai pemulihan penuh hubungan bilateral antara Indonesia dan Singapura.
Eksekusi Marinir
Eksekusi dua marinir Indonesia pada tahun 1968 menjadi titik balik yang menegangkan dalam hubungan bilateral, meskipun dianggap penting oleh Singapura untuk menegaskan kedaulatannya. Namun, pada awal tahun 2014, keputusan Indonesia untuk menamai kapal perang KRI Usman Harun—mengambil nama dari kedua marinir tersebut, Usman Muhammad Ali dan Harun Said—memicu kembali ketegangan lama dan membangkitkan reaksi emosional di kalangan masyarakat Indonesia dan Singapura. Mengingat adanya kerja sama latihan militer antara kedua negara, penamaan kapal tersebut dinilai kurang bijak dan berpotensi merusak hubungan diplomatik. Pemerintah Singapura pun secara terbuka menyampaikan kekecewaannya atas keputusan tersebut.
Peresmian monumen konfrontasi pada tanggal 10 Maret 2015 memiliki makna penting sebagai simbol pengingat atas salah satu episode bersejarah dalam perjalanan Singapura. Kenangan akan masa konfrontasi masih berpotensi memengaruhi dinamika hubungan antara dua negara yang bertetangga erat. Oleh karena itu, sangat penting bagi masyarakat Singapura untuk memperdalam pemahaman mengenai peristiwa politik yang terjadi di Indonesia, serta menyadari bahwa perubahan di negara ini dapat membawa dampak negatif terhadap hubungan diplomatik dan stabilitas ekonomi Singapura.