Nahdlatul Ulama, organisasi muslim terbesar, setahun terakhir meluncurkan proyek mengenalkan Islam damai dan inklusif ke dunia. Melalui Islam Nusantara, NU yakin dapat menawarkan narasi tandingan terhadap ideologi keras dan penuh kekerasan dari ISIL.
Islam Nusantara menjadi tema konferensi nasional ke-33 Nahdlatul Ulama pada Agustus tahun lalu. Namun, para peserta muktamar gagal menyepakati definisinya, sehingga anggota NU terus memperdebatkan konsep tersebut. Penolakan terbuka dan perbedaan pandangan, bahkan di antara pendukung, mendorong PBNU berdiskusi dengan cabang Jawa Timur.
Afifuddin Muhajir, pemimpin Islam dari Situbondo, menegaskan Islam Nusantara tidak boleh melampaui syariat. Ia menegaskan bahwa tidak semua ajaran Islam bisa sesuai dengan konteks Indonesia. Pernyataan Kiai Afif, yang terkenal fleksibel, menyoroti bahwa NU masih menghadapi persoalan serius yang belum terselesaikan.
Perbedaan pandangan antara pendukung dan penentang Islam Nusantara pada dasarnya berakar pada perdebatan klasik mengenai hubungan Islam dan budaya. Budaya Jawa di-Islamkan dengan mengubah praktik yang tidak sesuai syariat agar selaras dengan ajaran Islam. Ataukah budaya Jawa memengaruhi ritual Islam, membuat praktik keagamaan di Jawa berbeda dari Islam murni di Arab Saudi.
Kelompok penentang menilai Islam Nusantara berusaha melegitimasi praktik budaya yang tidak sesuai ajaran Islam. Sebaliknya, para pendukung berpendapat Islam Nusantara mencerminkan Islam yang inklusif dan menghargai budaya lokal. Penentang menganggap tradisi Kejawen yang memadukan Islam, animisme, Hindu, dan Buddha sebagai penyimpangan. Sebaliknya, pendukung menilai tradisi tersebut sebagai kekayaan budaya yang layak mendapat apresiasi.
Penentang Islam Nusantara menilai konsep ini menyentuh ranah akidah dan menganggapnya sebagai hal yang tidak bisa ditawar. Sebaliknya, para pendukung berpendapat Islam Nusantara lebih berkaitan dengan fiqih atau hukum Islam, yang sifatnya lebih lentur. Akibatnya, kedua pihak menemui jalan buntu: penentang menilai Islam Nusantara memiliki kelemahan sebagai sebuah pemahaman, sementara pendukung beranggapan penolakan muncul karena kurangnya pemahaman.
Pribumisasi Islam
Islam Nusantara melanjutkan gagasan pribumisasi Islam yang Abdurrahman Wahid perkenalkan dan Hasyim Muzadi teruskan. Pribumisasi Islam menentang Islam transnasional sebagai produk impor dan tidak sesuai budaya lokal. Said Aqil Siradj kemudian mengembangkan gagasan itu menjadi konsep Islam Nusantara. Walaupun istilahnya baru muncul belakangan, Islam Nusantara berakar pada pemikiran Hazairin tentang mazhab nasional dan konsep fiqh Hasbi As-Shiddieqy.
Banyak warga khawatir ISIS memperoleh pijakan, sehingga Nahdlatul Ulama menegaskan kembali praktik Islam yang mereka jalankan. NU menampilkan Islam berbeda dari ekstremisme kekerasan ISIS dan membuktikan Islam sebagai sumber perdamaian di kepulauan ini selama berabad-abad.
Pada intinya, upaya melawan radikalisasi perlu menghadirkan ideologi tandingan. Karena itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memberikan dukungan besar terhadap Islam Nusantara. Presiden Joko Widodo bahkan menyebut Islam Nusantara sebagai banteng sekaligus benteng yang menjaga ideologi Pancasila, semboyan Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945 serta keutuhan NKRI.
Pendukung Islam Nusantara mendorong konsep ini agar diperkenalkan dan disebarkan ke dunia Islam yang lebih luas. Namun, masih menjadi pertanyaan apakah Islam Nusantara dapat menarik perhatian di Timur Tengah. Jika fokusnya hanya pada promosi produk tanpa menekankan metode, maka usaha memperkenalkan Islam Nusantara ke wilayah lain kemungkinan besar tidak akan berhasil.
Orang menilai Islam Nusantara kurang relevan karena Nahdlatul Ulama hanya membangun basis kuat di Jawa. Berbeda dengan Wahabisme, Ikhwanul Muslimin atau Hizbut Tahrir yang memiliki jaringan internasional dan mengangkat isu-isu global dengan daya tarik luas bagi umat Islam, NU lebih banyak berfokus pada persoalan budaya yang dekat dengan masyarakat Jawa. Dengan kondisi tersebut, muncul pertanyaan bagaimana Islam Nusantara bisa berharap memiliki pengaruh di tingkat global.
Arab Saudi menjaga dua kota suci, Turki menegaskan diri sebagai wakil dunia Islam, dan Mesir menempatkan diri sebagai pusat studi Islam melalui Universitas Al-Azhar. Pertanyaannya, kontribusi apa yang bisa Islam Nusantara berikan?
Salah Paham
Promosi Islam Nusantara sering menimbulkan salah paham sebagai usaha membawa budaya lokal ke dunia Arab. Perbedaan sejarah, politik, dan konteks sosial budaya membuat usaha itu tidak mungkin mereka lakukan. Islam Nusantara justru menawarkan pendekatan yang menekankan penerimaan terhadap budaya lokal. Namun, peluang pendekatan ini mendapat pengakuan di dunia Arab tetap kecil karena budaya Arab sulit terpisahkan dari praktik Islam sehari-hari.
Pendekatan Islam Nusantara dinilai paling berpotensi memberi pengaruh di dunia Barat. Metode ini bisa diterapkan untuk membentuk Islam Australia, Islam Amerika atau Islam Eropa—yakni pemahaman Islam yang selaras dengan budaya lokal tempat komunitas muslim menetap.
Kaum konservatif di Barat merasa khawatir bahwa kedatangan pencari suaka dan pengungsi dari negara-negara seperti Suriah, Irak dan Afghanistan dapat menimbulkan masalah sosial atau mengubah budaya Eropa. Dalam konteks ini, Islam Nusantara dapat menekankan pentingnya pemahaman hukum Islam yang lebih fleksibel bagi komunitas muslim di Barat. Prinsip tersebut sejalan dengan pepatah ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’, yang menekankan pentingnya menghormati adat dan tradisi setempat di mana pun seseorang berada.
Oleh karena itu, Islam Nusantara seharusnya bukan tentang mempromosikan Islam Jawa, melainkan tentang bagaimana budaya lokal, di mana pun berada, dapat berinteraksi secara positif dengan ajaran Islam. Inilah hakikat sejati Islam Nusantara: bukan tentang Jawanisasi Islam atau Islamisasi Jawa, atau Islamisasi Barat atau westernisasi Islam.