60 Tahun Bandung: Janji Tak Terpenuhi

Moses Kotane Maulvi Cachalia

Moses Kotane dan Maulvi Cachalia mewakili gerakan pembebasan Afrika Selatan pada Konferensi Asia Afrika di Bandung, April 1955. Pemerintah Afrika Selatan menahan paspor mereka, tetapi di London Krishna Menon dan Pandit Nehru memberi dokumen perjalanan India.

Pada 25 Maret 2015, kurang dari dua minggu sebelum peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika. Kedutaan Besar Indonesia di Afrika Selatan mengadakan jamuan malam untuk mempromosikan peringatan tersebut.

Jamuan ini mendorong dialog antara jurnalis Afrika Selatan dan rekan Indonesia untuk membahas makna konferensi, khususnya 19 April 1955. Dua wartawan arus utama Indonesia hadir: Bagus Budi Tama Saragih dari The Jakarta Post. Hapy Ratna Sary dari Antara News datang akhir pekan itu untuk ikut diskusi media tentang Bandung.

Berbagi Tantangan

Di Bandung, para pemimpin negara berkembang Asia dan Afrika yang baru merdeka berkumpul untuk berbagi tantangan. Mereka bersepakat bekerja sama melawan ketidakadilan bekas penjajah. Konferensi berlangsung di tengah Perang Dingin pada 1950-an. Meski begitu, konferensi berhasil mendorong perumusan kepedulian bersama serta pedoman kerja sama dan perdamaian internasional.

Deklarasi Bandung sepuluh poin ini melahirkan prinsip-prinsip yang banyak mengadopsi nilai Perserikatan Bangsa-Bangsa. Prinsip-prinsip itu mencakup pengakuan keragaman antarnegara dan di dalam kawasan, termasuk perbedaan sistem sosial dan ekonomi. Mereka mendorong kerja sama praktis dan berkelanjutan berdasarkan keunggulan komparatif, kemitraan setara, kepemilikan, dan visi bersama. Deklarasi menegaskan komitmen kuat untuk mengatasi tantangan bersama. Ia mendorong kemitraan berkelanjutan yang melengkapi inisiatif regional dan subregional di Asia serta Afrika. Deklarasi juga menuntut masyarakat adil, demokratis, transparan, akuntabel, dan harmonis. Selain itu, ia menekankan perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan dasar, termasuk hak atas pembangunan. Deklarasi mendorong tindakan kolektif dan terpadu dalam forum multilateral.

Kemitraan Strategis Asia-Afrika Baru (NAASP) menekankan pentingnya kerja sama praktis antar kedua benua di bidang perdagangan, industri, investasi, keuangan, pariwisata, TIK, energi, kesehatan, transportasi, pertanian, sumber daya air dan perikanan. Endy Ghafur Fadyl, Kepala Bagian Media Kementerian Luar Negeri, menyatakan acara tahun ini diperkirakan berskala besar karena banyak kepala negara, aktivis dan organisasi internasional telah mengonfirmasi kehadiran. Dalam perbincangan singkat dengan wartawan Afrika Selatan, Endy menyebut lebih dari 109 pemimpin dunia dan 25 organisasi internasional diperkirakan berkumpul di Jakarta antara 19–24 April 2015.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *